Visa Jepang : Requirements, Tips & Tricks

Kali ini gue mau share pengalaman bikin visa Jepang biasa (non e-passport) untuk trip gue bersama Suami awal bulan lalu.

Seperti yang udah diketahui, pemegang e-passport punya privilege untuk ke Jepang, bukan tanpa visa, melainkan dengan visa waiver. Bedanya apa? Visa waiver gampang sekali didapat, tinggal ke Kedubes Jepang untuk isi formulir dan bawa e-paspor nya, diambil besoknya. Selesai. Berlakunya pun maksimal tiga tahun dengan masa tiap kunjungan 15 hari, jadi bisa multiple entry. Segampang itu.

Berhubung waktu pertama kali buat paspor belum ada nyali buat jalan-jalan jauh, jadi kami cuma buat paspor biasa instead of e-passport, jadi lah untuk trip kami ini kudu apply visa jalur biasa ke Kedubes Jepang.

Requirements

Apply visa Jepang harus berdasarkan wilayah domisili ya. Misalnya untuk yang ber-KTP Jawa Barat, apply di Kedubes Jakarta. Untuk yang ber-KTP Jawa Timur di Konsulat Surabaya, dll. Kudu diinget banget nih, soalnya ada temen gue yang ditolak apply di Jakarta karena gak sesuai wilayah KTPnya yang beralamatkan di Sulawesi. Sedihh.

Mengutip dari web Kedubes Jepang di Indonesia, syarat membuat visa turis single entry atas biaya sendiri (beda tujuan beda lagi syaratnya) adalah sbb:

1 Paspor.
2 Formulir permohonan visa. Download (PDF) dari website disertai pas foto terbaru ukuran 4,5 X 4,5 cm, latar putih, amannya sih difoto di studio foto (supaya kualitasnya bagus)
3 Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili) di kertas A4 (jangan digunting kecil)
4 Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (bila masih mahasiswa)
5 Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
6 Jadwal Perjalanan download (DOC), berisi detail kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang. Inget ya, detail.
7 Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. Karena gue pergi sama Suami jadi kami melampirkan fotokopi buku nikah
8 Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Gue sih melampirkan slip gaji dan rekening koran 3 bulan terakhir.

Selain itu kami juga melampirkan bukti booking hotel sekalian.

Tips & Tricks

Tips ini murni hasil pengalaman dan ke-sotoy-an gue yah, sodara sekaliaaan..

  • Formulir Pengajuan Visa

Formulir ini bisa diisi langsung di komputer atau tulis tangan. Di Kedubes Jepang juga formulir ini tersedia kok, buat jaga-jaga ada yang salah isi.

Kemarin gue sempat bingung untuk pengisian halaman kedua, tentang Guarantor or Preference in Japan, sama Inviter in Japan, ternyata kalo kita memang atas biaya sendiri dan ga ada pengundang, kosongin aja.

  • Jadwal perjalanan

Bikin itinerary gak gampang ya, I know. Gue sempet migrain mikirinnya haha Sedangkan apply visa kalo bisa secepatnya, mulai dari H-3 bulan berangkat udah bisa. Jadi kemarin untuk apply visa nya gue pakai itinerary sementara aja hasil googling dan nyontek sana-sini.  Sedangkan untuk penginapan tentu ajaa hasil booking gratis dari Booking.com. Tapi jangan terlalu ngasal juga sih pas booking, mana tau besok-besok lagi malah sold out akomodasi yang strategisnya.

  • Dokumen biaya perjalanan

Baca di beberapa grup traveler, banyak yang risau masalah minimal saldo yang ada di rekening. Kemarin gue sendiri cuma ada saldo mengendap di tabungan sekitar lima belas juta rupiah. Sebenernya agak ngeri-ngeri-sedap juga sih, cuma ya gimana lagi adanya cuma segituu haha Alhamdulillah approved kok. Saran gue sih sertakan slip gaji juga sebagai bukti tambahan.

  • Datang pagi-pagi dan bawa makanan

Antrean dibuka mulai jam 8 pagi sampai 12 siang. Jadi disana nanti kita dua kali antre. Pertama datang, kita dikasih nomor. Kemudian kita antre sampai diperbolehkan masuk dan menukar KTP/SIM dengan nametag visitor.

Sewaktu gue apply visa memang lagi peak-season bertepatan dengan musim semi. Udah gitu kami agak siang datengnya sekitar jam 10 pagi. Alhasil, antrean udah mengular panjaaang sekali. Dan kami belum makan. Bye. Mau keluar lagi pun gabisa, kalo keluar ya nanti antre dari awal lagi. Lelah amat. Akhirnya terpaksa kami antre sambil tahan lapar T__T

Apakah urusan antre-mengantre udah selesaai?

Tentu tidaaaak. Ternyata oh ternyata, setelah dapat nametag visitor, untuk bisa maju ke counter kita masih harus ambil nomor antrean lagi. Hiks. Kemarin kami harus antre sekitar 200 nomor antrian. Dan jangan lupa, kami-masih-belum-makan. Di dalam area Kedubes gak ada kantin. Gabisa keluar lagi pula. Lengkap sudah penderitaan hiks Jadi jangan lupa sarapan dulu ya, dan boleh lah bawa cemilan atau minuman daripada kelaperan.

Urusan kami baru kelar jam tiga siang. Antre berjam-jam cuma untuk ngasih berkas gak sampai lima menit. *cry* Begitu kelar langsung ngibrit ke GI beli makan haha

Pengambilan Visa

Terlepas dari antre yang ra-uwis-uwis nya sih, selama dokumennya lengkap, urus visa Jepang itu gampang kok, cuma butuh empat hari kerja sudah bisa diambil. Kemarin kami apply Selasa, dikasih resi untuk pengambilannya dan diminta kembali hari Jumat untuk pengambilan paspor dan visa (kalo diapproved).

Sama seperti waktu apply, pengambilan visa juga dua kali antre. Antrean dipersilahkan masuk gak tentu jam berapa tapi paling cepat mulai jam 1, pokoknya ketika antrean apply visa didalam udah less crowded.  Jangan lupa bawa resi pengambilan, karena kemarin resi gue dipegang Suami yang datang belakangan dan gue gaboleh ambil nomor antrean aja dong sampai resinya dateng hiks.

Begitu dipanggil ke counter *deg-degan* kita tinggal kasihin resinya, terus petugasnya akan balikin paspor kita yang udah tertempel visa. Yeaaaay, approved! Hamdalah.. Kemudian kami bayar masing-masing Rp330.000 tunai. Masa berlaku visa Jepang adalah tiga bulan dengan ijin masa kunjungan 15 hari.

Semoga membantu yaaa buat para pejuang visa Jepang *wink*

Sekian dan terimagaji.

Note:

*Embassy of Japan : Jl. MH Thamrin No.24, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Jepang Bucketlist Trip (4) : Be Careful with what You Wish for..

Jadi seperti yang udah gue sebut ditulisan gue sebelum-sebelumnya, trip ke Jepang kami kemarin dibumbui  dengan love-hate-relationship (naon) karena ketidakjelasan tiket yang kami pegang.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban agen tiket atas keonaran yang mereka buat, kami diberikan tiket untuk terbang ke Singapura lebih dulu buat transit satu malam naik maskapai Garuda Indonesia sebelum akhirnya bisa ke Jepang. Ini blessing in disguise soalnya secara kebetulan juga jadi bisa mencentang bucketlist Suami buat naik Garuda haha kok sedih ya cetek banget bucketlistnya wkwk. Yap, soalnya backpacker kayak kami mah eman-eman banget beli tiket Garuda kecuali dalam rangka pekerjaan yang mana nantinya uitnya akan di reimburse sama kantor haha

Begitu mendarat di Singapura, Suami cerita kalo tadi di pesawat dia sempet googling dulu “dimana letak headset di pesawat Garuda Indonesia”, yang berhasil bikin gue ngikik-ngikik geli terus dengan asbun nya bilang… “udah kecentang lah ya ini bucketlist naik Garudanya, gratis pula, habis ini kudu kita tingkatin lagi nih bucketlist nya jadi ‘naik pesawat di kelas bisnis’ haha”. Geleng-geleng lah sang Suami atas celetukan Istrinyah~

Long story short, setelah liburan happyhappy foya-foya selama 8 hari di Jepang, terjadilah insiden luntang-lantung di Shinjuku yang menguras hati,  gagal boarding dan terlantar di Bandara, tiket php, sampai berpikir mau mengikhlaskan belasan juta tabungan demi bisa pulang, akhirnya dua hari kemudian agen tiket yang onar tersebut ngasih juga tiket yang valid ke kami yang ternyata salah satu tiketnya…. di upgrade ke bussines class! *zoom in-zoom out*

Gue langsung mengingat ke-asbun-an diri sendiri di awal liburan kemarin. Gatau harus senang atau prihatin. Senang karena… ya di-upgrade gratis masa ga seneng, kapan lagi coba. Prihatin karena… mengingat ketidakjelasan tiga hari kemarin, sakit hati meeen, terus mereka main upgrade aja, kan mau kesel jadi nanggung gitu lho.

Jadi tiket yang di upgrade cuma satu, punya Suami, sedangkan tiket istri tetap di ekonomi *kesal* *iri* Tapi berhubung kami memiliki jiwa susah-senang ditanggung bersama *paansi* jadi deh dibagi, penerbangan NRT-HK dia di bisnis, sedangkan penerbangan HK-CGK gue yang di bisnis. Untungnya dibolehin tuker sama crewnya.

Gimana rasanya di bussiness class Cathay? wkwk Sebelum boarding, Suami briefing gue dulu biar ga keliatan norak-norak banget. Headsetnya ada dimana, gimana naik-turunin seatnya, dll. Kok dia tau? Iya, soalnya googling dulu pas sebelum dia boarding haha Selanjutnya ya sama aja sih. Enaknya paling karena selain space nya lega, seatnya bisa direbahin sampe jadi bed gitu, pas banget karena gue kemarin flight malam. Meal on board nya juga lebih fancy, ada makanan pembuka-main course-makanan penutup. Di business class isinya orang-orang necis semua, aku mah apalah dengan muka bengep kurang tidur, mungkin mereka mikirnya “ini anak siapa sih bisa-bisanya naik bisnis..” wkwk

Intinya sih be careful with what you wish for.. Hati-hati, neng, kalo ngomong. Kalo malaikat lewat terus dicatat omongan kita gimanaa huhu Dan mungkin kita merasa kalo sesuatu itu sebuah ujian, padahal bisa jadi sesuatu itu adalah jembatan buat semesta mengabulkan keinginan kita. *sotoy*

Udah gitu aja.

Cheers,

keep making bucketlist and keep be careful with what we wish for…

Notes:

*asbun = asal bunyi = bicara tanpa dipikir

**php = pemberi harapan palsu

Jepang Bucketlist Trip (3) : Playing Snow

Masih dalam rangka mencentang bucketlist sebanyak-banyaknya selama trip kemarin, akhirnya satu mission lagi berhasil dilakuin, yaitu…. main saljuuu~

Jadi walaupun udah April dan udah masuk musim semi, di Jepang masih ada snow resort yang buka, contohnya Gala Yuzawa yang kemarin kita datengin masih akan buka sampai awal Mei.

Hari berikutnya setelah sampai Tokyo, destinasi pertama kita langsung ke Gala Yuzawa Snow Resort. Dimulai dari Stasiun Tokyo naik shinkansen ke Stasiun Echigoyuzawa sekitar satu setengah jam kemudian lanjut naik shinkansen lagi ke Stasiun Gala Yuzawa. Dengan Tokyo Wide Pass yang kita beli seharga 10.000 yen kita dapet free pass naik shinkansen pp ke Gala Yuzawa. Lumayan banget karena tiket transport nya bisa belasan ribu yen kalau tanpa pass.

Excited sekaliii karena ini shinkansen pertama kita berdua haha Kesan waktu naik shinkansen? Biasa aja ternyata *sombong* Pas kita di dalam keretanya gak berasa apa-apa, sama aja kaya kereta biasa cuma pemandangannya lebih cepet ganti haha Mungkin karena kita naik shinkansen nya tipe yang paling lambat kali ya. Masih penasaran sih gimana rasanya naik tipe tercepatnya, mana tau ada bedanya kan. Someday yaa..

image

Begitu sampai di Stasiun Echigoyuzawa langsung berasa dingiiin banget padahal masih sepuluh derajat dan udah pake sweater sama jaket *cupu* Sepanjang kereta menuju Gala Yuzawa Station amazed sekali sama pemandangan salju diatas bukit-bukitnya.

Sampai di Gala Yuzawa Station, kita beli tiket snow resort nya seharga 2.000 yen aja dengan promo Tokyo Wide Pass untuk naik-turun dengan gondola plus sewa sepatu boots dan sled. Jadi pilihannya disana kita bisa main ski, snowboarding, atau mainan seluncuran salju. Kita pilih main sled aja soalnya sewa peralatan ski atau snowboarding cukup mahal sampai belasan ribu yen alias lebih dari sejuta rupiah.

Pemandangan dari atas gondola kereen menurut gue yang pertama kalinya ngeliat hamparan salju haha Tapi separuh ngeri juga soalnya berjurang-jurang gitu kaya *dan emang* di gunung.

Sampai di snow resort, kita sewa loker buat simpan barang bawaan kita berdua. Sebelum main, kita makan dulu karena udah laper beraaat. Di Gala Yuzawa ada food court nya  cuma variasi menunya sedikit dan ga ada tanda-tanda makanan halal, mahal pun harganya diatas 1000 yen per porsi. Kita udah prediksi sih, makanya kita siap-siap bawa pop mie dan termos air panasnya sekaligus. Niat banget ya haha Makan popmie pas udara dingin emang paling ntaps soul~

For the first time in forever pegang salju kita norak sekali haha Mau bikin olaf ternyata susah ya~ Terus kita main sledding di track seluncuran dan sukses ketagihan. Bahagia bangeet kaya bocah. Ga terasa sampai tiga jam kita main diakhiri dengan main snow tubing -seluncuran salju tapi pake ban- yang lebih seru tapi rada serem juga haha

Rekomendasi banget nih buat ke Jepang bisa pilih Maret-April ya supaya bisa Sakura-an sekaligus main salju juga, dan bahkan temen kita yang dateng kesana beberapa hari setelah kita pas banget lagi turun salju di Gala Yuzawa. Envy. Next time semoga ada rezeki lagi buat ke suatu tempat biar bisa ngerasain turun salju yaa. *bucketlist cetek* Aamiin

image

 

“promise me it won’t be the last snow for us…” -she said to him at the end of the day.

 

 

Sehari di Tottori

Haaah? Apa itu Tottori? Dimana dan ada apa disana?
Mungkin sebagian besar orang ga familiar yah sama destinasi ini, termasuk gue. Yup, kali ini sih giliran mencentang bucketlistnya Pak Suami: Aoyama Gosho Manga Museum. Aoyama Gosho adalah Mangaka terkenal Jepang dengan karyanya Detective Conan, kesukaannya Pak Suami. Dari awal tau Tottori doi kekeuh banget pengen kesana, padahal transport kesana lumayan mahal, padahal kan mendingan ke Nara atau keliling Osaka aja yah *dikeplak* Tapi berhubung cinta *tsah* dan Pak Suami juga udah berlapang dada diajak ke USJ jadi hayulaah kita ke Tottori, bang~

Perjalanan ke Tottori dari Osaka naik JR bus memakan waktu 3.5 jam sampai ke Tottori Station. Sedangkan untuk sampe ke Aoyama Gosho Manga Museum di Yura, butuh sejam lagi dari Tottori. Makanya perlu cermat banget nih hitung-hitungan waktunya kalo mau pp dalam sehari, apalagi jam 11 malemnya kita udah pesen tiket juga dari Osaka ke Tokyo.
Jam setengah tujuh pagi kita udah standby di OCAT Osaka, dan berangkat tepat jam tujuh. Empat jam kemudian baru deh kita sampai di kota nya Aoyama Gosho, Yura. Letaknya jauuuuh banget kalo di peta, berbatasan langsung sama Laut Jepang. Jadi Yura ini emang udah dinobatkan jadi Conan City gitu. Di Yura Station aja nuansa nya udah Conan banget. Sepanjang jalan menuju museum sekitar 3 km bertebaran Conan dimana-mana. Ada patungnya. Ada plakat di sepanjang jalanannya. Disitu Pak Suami telaten banget motoin setiap objeknya, dan gue jadi istri siaga jadi fotografer doi setiap ada Conan dijalanan. Gemas bangeeet, boys will always be boys, they said.

image

Museum Aoyama Goshonya sendiri seruuu menurut gue. Bukan typical museum yang boring gitu. Disana terpajang mulai dari sejarah hidupnya Aoyama Gosho, sampai sketsa karya-karyanya. Banyak yang bisa dilakuin misalnya ada kuis trivia tentang Conan, ngumpulin stempel Conan, nyobain dasi kupu-kupu perubah suaranya Conan, ada simulasi skateboardnya Conan, tebak gambar, sampe simulasi buat nunjukkin kalo trik-trik di Conan beneran bisa terbukti lho. Bahkan tiket masuknya aja unik~ Keren pokoknya. Oya, tiketnya 700 yen per orang yaa.

Gamau kalah sama istri, kali ini Pak Suami juga mau belanja souvenir dong haha Akhirnya doi berhasil bawa pulang tumblr Conan, stamp Conan sama postcard. Girang banget dia hari itu, jadi ikut syenanggg ^^

Jalan-jalan kita di Conan city hari itu ditutup dengan…. Conan Gelato! yeaaay. Thanks Conan for making me and my husband’s day great :))

Jepang : Akomodasi & Aplikasi Review

Lagi gabut dan pengen nulis, tapi malas ngelanjutin cerita perjalanan, dan tetiba pengen nulis review akomodasi kita selama di Jepang yang Alhamdulillahnya sih kita berdua cukup puas sama bookingan sotoy gue yang awalnya cuma untuk keperluan visa tapi akhirnya malas cari lagi haha

Tokyo Wide Pass

Tokyo Wide Pass ini seharga 10.000 yen yang berlaku untuk 3 hari berturut-turut. Jadi itinerary trip kami adalah keliling Tokyo (of course!), ke Gala Yuzawa, ke Kawaguchiko Lake, baru selanjutnya ke Kyoto, Osaka, Tottori, dan kembali lagi ke Tokyo. Jadi TWP ini pas sekali buat trip kami. Keuntungan dari TWP ini adalah kami gaperlu bayar lagi untuk naik kereta JR buat keliling Tokyo dan sekitarnya, ke Gala Yuzawa pp yang mana cuma bisa dijangkau dengan Shinkansen dan harga tiketnya belasan ribu yen, dan naik kereta sampai Stasiun Kawaguchiko.

TWP juga bisa dipake buat naik Narita Express (NEX) dari Bandara Narita ke Tokyo, maupun dari Bandara Haneda ke Tokyo. Tapi karena ke-gak profesionalan agen tiket jadi satu hari TWP kita terbuang percuma soalnya sampe Haneda udah malam dan counter TWP nya udah tutup 😦 Jadinya besok paginya kami beli TWP di Stasiun Tokyo, padahal lusanya kami udah ke Kyoto. Sayang banget kan cuma terpakai 2 hari 😦

Info tentang TWP bisa dicari disini.

Willer Bus Tokyo-Kyoto

Sebenarnya ada alternatif lain yaitu beli JR Pass, dimana kita bisa naik kereta ke area Kansai tanpa bayar lagi, lebih cepet pula. Tapi harga JR Pass cukup mahal, lebih dari tiga juta rupiah. Selain itu lebih cepet juga ga selalu lebih baik, soalnya kalo naik kereta cepat kami jadi harus booking penginapan dua malam lagi yang berarti cost jadi nambah. Akhirnya kami putuskan buat naik bus malam aja ke Tokyo-Kyoto dan Osaka-Tokyo.

Untuk ke Kyoto, kami booking online Willerbus disini , dan cuma bisa dibeli online memang. Harganya variatif sekali tergantung rute dan fasilitas busnya. Bus malam lebih mahal daripada bus siang. Kami waktu itu dapet yang lumayan murah 5900 yen. Fasilitasnya lumayan, space buat kaki kita cukup lega. Selain itu ada colokan listriknya yang berguna banget buat traveller kaya kita. Nyaman banget lah Willerbus ini.

JR Bus Tottori-Osaka, Osaka-Tokyo

Untuk rute Osaka-Tottori kita naik JR Bus yang dibeli sehari sebelumnya. Osaka-Tottori jauh ternyata, jadi kudu cermat nih pilih waktu pergi-pulang nya kalo mau pp dalam satu hari. Harga bus nya sekitar 4000 yen, fasilitasnya standar sih, kursi 2-1 dengan space kaki yang cukup lega. Sayangnya gak ada colokan listrik.

Untuk rute Osaka ke Tokyo ini kita nunda-nunda banget nih beli tiket busnya, bahkan akhirnya kelupaan dan baru inget pas sampe Jepang. Akhirnya sewaktu di OCAT Osaka untuk beli tiket bus ke Tottori kita pesan sekalian tiket bus Osaka-Tokyo.

Dengan harga 7000 yen, menurut gue standar banget fasilitasnya. Space untuk kaki juga agak sempit, tapi ada wifi dan colokan listrik. Bangkunya kaya bus ekonomi gitu. Gue prefer Willerbus dibanding JR Bus ini dari segi harga berbanding fasilitasnya.

Kyoto Bus Pass

Kyoto Bus Pass ini seharga 500 yen per hari per orang. Dengan pass ini kita bebas naik bus di Kyoto sepuasnya. Bandingkan dengan pake tiket biasa yang 230 yen sekali jalan. Dibanding subway, naik bus di Kyoto lebih worthed karena bisa ngejangkau tempat-tempat wisata. Tapi sebenernya tempat-tempat wisata di Kyoto bisa banget ditempuh jalan kaki. Kayanya dalam sehari aja kemarin kami cuma naik bis tiga kali, sisanya jalan kaki.

Asakusa Hotel Wasou

Daerah Asakusa jadi area favorit buat kita berdua. Gak terlalu ramai kaya di Shinjuku atau Shibuya, tapi semuanya ada, mulai dari tempat wisata, tempat makan, sampe pasar dan Don Quijote buat beli oleh-oleh juga ada lengkaaap.

Disini kami total nginap selama 4 malam di Asakusa Hotel Wasou, hasil booking sotoy di Booking.com. Rate nya beda-beda yang kita dapat tiap malam untuk jenis kamar yang sama, mulai 5160 yen sampai 8800 yen. Kamar kami bergaya Ryokan gitu dengan kamar mandi dalam plus bathub. Tempat tidurnya 2 futon, ada selimut, TV, free wifi dan free berendem di Onsen juga tapi female only. Nyaman banget disini, ada lift nya juga jadi ga repot bagi yang bawa koper segede gambreng kaya kita.

Selain tipe private room, ada juga dormitory khusus perempuan dengan kamar mandi bersama. Minusnya, kamar mandinya berbentuk Osen ala Jepang yang berendem rame-rame gitu, kalo buat yang risihan kayanya gak nyaman deh.

Aksesnya lumayan gampang dari Asakusa Station tinggal jalan kaki ke arah Kaminarimon melewati Sensoji Temple sekitar 15 menit kalo jalan-jalan manja sambil motoin sakura gitu yah~ (soalnya kita gitu haha) Oya dari sini bisa keliatan Tokyo Skytree lhooo. Hits ya..

Guest House Kyoto Inn

Penginapan Kyoto kita ga banyak pilihan karena banyak yang full booked. Untung nemu dengan harga yang masih terjangkau. Awalnya kita pesan kamar dormitory, tapi setelah email-emailan, Essam, pengelolanya nawarin kita buat di private room aja berdua dengan rate 11960 yen dua malam untuk berdua.

Penginapan Guest House Kyoto Inn ini ga besar, cuma 3 lantai untuk kamar-kamar yang kebanyakan dormitory. Awal masuk kamar, kami kaget kok ada barang-barang orang. Ternyata kamar kita adalah kamar manajernya yang datang kesitu sesekali aja. Kamarnya ada AC, dua tempat tidur dan cukup luas, free wifi. Kamar mandi diluar bareng-bareng dan ada ruang tengahnya. Asik kayanya untuk rombongan gitu kalo ngetrip bareng temen.

Aksesnya gampang, satu kali bis 205 dari Stasiun Kyoto sampe Umekojikoen-Mae atau Umekoji Park, trus jalan dikit deh, pokonya penginapan ini terang-benderang karena pake tumblr lights gitu. Oya, jangan lupa pencet Stop ya soalnya kita dua kali naik bis selalu kelewatan karena Pak Supirnya bablas aja ga berhenti di bus stop nya itu karena sepi :”

Business Hotel Taiyo

Business Hotel Taiyo ini didapet dari hasil baca blog orang, banyak banget orang Indonesia yang nginep sini kemarin itu. Agak jauh kalo dari Osaka Umeda tapi deket sekali dari Stasiun Namba tinggal jalan sedikit, strategis pula deket sama pusat keramaian dan Don Quijote (toserba di Jepang gitu). Rate nya kita dapat murah  cuma 4000 yen berdua satu malam. Kamarnya ada TV dengan dua tempat tidur dan AC. Dibawah juga bisa numpang masak jadi bisa ngirit juga. Minusnya paling cuma karena kamar mandinya cuma ada di lantai 1, 2, dan 3 padahal kamar kita aja di lantai 8. Untung kami harus checkout pagi-pagi banget jadi belum ada yang mandi, kalo agak siang bisa jadi antre kali yah mau mandi doang?

Marroad International Hotel Narita

‘Thanks’ to agen tiket ngeselin itu kita jadi nambah satu malam gajelas lagi di Jepang. Untung admin nya yang lain inisiatif booking penginapan untuk kami. Hamdalah.

Marroad Hotel ini deket banget sama Bandara dan ada free Shuttle bus nya dari dan ke Bandara. Ratenya sekitar satu juta-an rupiah, cukup murah karena hotelnya besar, 800 kamar ala hotel jadul gitu. Kamarnya juga luas, tempat tidur queen size dengan TV, kamar mandi bathub dan free wifi. Tapi harga sarapannya mahal banget qu tak shanggup~

Hyperdia.com

Ini website sih, ada aplikasinya juga cuma gabisa download di Indonesia hiks. Intinya ini guna buat cari transport selama di Jepang, mulai dari rute, jam, sampai harganya.  Penting bgt ini. Cuma entah kenapa selama nyusun itinerary kok gue ga mudeng-mudeng yah baca hyperdia huhu

Google Maps

Untung ada Gmaps! Gara-gara ga paham cara make hyperdia, jadi selama di Jepang kami pake Google maps aja dan berguna-pake-bangeeet. Tinggal search rute nya dari mana mau kemana, lansung deh muncul pilihan transportasinya berikut jam berangkat yang bisa dipilih juga. Mau jalan kaki juga tinggal ikutin aja. Gue aja yg buta arah akut bisa bacanya haha

Google translate

Download aplikasinya deh~ Secara Jepang kan tulisannya kanji jadi kita mana bisa baca ya kan. Di Gtranslate ini kita bisa tinggal scan aja tulisan Jepangnya nanti otomatis nerjemahin. Bahkan bisa juga tinggal foto aja tulisannya, dia bisa terjemahin juga. Ntapsss. Sebenernya kalo untuk penunjuk jalan atau di alat transportasi sih di Jepang pasti ada translate Inggrisnya kok, cuma buat kami berguna banget nih buat baca ingredients di makanan buat menghindari makanan yang haram dimakan. Namanya juga ihktiar yah..

Odigo.jp

Salah satu part dari perjalanan adalah bikin itinerary. List tempat-tempat yang mau dikunjungin udah ditangan, nah bagian yang awalnya bikin migrain adalah gimana cara nentuin urutan tempat wisatanya biar rutenya efisien? Gimana gue bisa tau kalo taman A sedaerah sama kuil B atau deketnya sama stasiun X misalnya? Untungnya nemu web Odigo ini. Jadi kita bisa bikin our own itinerary, nanti dia ada Maps nya jadi langsung keliatan dan gampang buat nentuin misalnya abis ke kuil A enaknya ke taman Z karena deketan. Begitulah~ Kalo udah beres, bisa kita download dan print sendiri jadi booklet kecil gitu sebagai panduan jalan-jalan disana.

Accuweather

I’ve never got an urge to check weather forecast before. Tapi selama di Jepang kemarin penting banget ternyata untuk cek ramalan cuaca berhubung di musim semi sering turun hujan. Kesaktian Accuweather pertama gue rasakan sewaktu hari kedua dan ketiga di Tokyo, dimana sebenernya itinerary kami adalah ngeliat Gunung Fuji dulu baru besoknya ke Gala Yuzawa. Tapi ternyata… Accuweather menunjukkan kalo hari kedua bakal berawan bahkan hujan seharian sedangkan di hari ketiga bakal cerah ceria, jadilah kami sepakat buat menukar keduanya, Gala Yuzawa dulu baru besoknya liat Gunung Fuji. Salah satu keputusan tercerdas seumur hidup karena beneran dong hari kedua didominasi hujan, yang mana ga masalah untuk sekedar main salju, dan hari ketiga cerah banget jadi kita bisa memandang Fuji sepuasnyaa *cheers*

Kesaktian Accuweather yang berikutnya gue rasakan adalah pas di Kyoto. Hari pertama di Kyoto hujaaan seharian, dan angin yang lumayan kenceng bikin payung yang gue bawa rusak. Akhirnya gue beli payung transparan supaya kekinian dan dalam sehari rusak juga *cry* Pagi kedua di Kyoto, sebenernya langit mendung. Kemudian gue galau mau bawa payung apa nggak, malas bawa berhubung si payung baru bukan payung lipat, hampir rusak pula. Tapi mendung. Tapi malas bawa. Tapi kalo hujan masa jajan payung lagi huft *dilema kehidupan* Akhirnya setelah diyakinkan kalo di Accuweather ga akan hujan, jadilah gue ga bawa tu payung daaaan… beneran ga hujan, Padahal mendung juga hampir seharian. Yeaaay..

Intinya, penting sekali untuk cek ramalan cuaca tiap hari dan mengimani percaya-percaya ajadeh ya~

XL Pass

Jadi untuk urusan internetan di Jepang kita bisa sewa pocket wifi dari Jakarta ataupun pake yang lagi hits sekarang, XL Pass. Awalnya kita pilih sewa wifi aja soalnya takut XL Pass ga lancar disana. Tapi bulan April emang lagi peak season dan pocket wifi di tanggal kita pergi sold out, ada pun yang paketnya mahal. Akhirnya kita pake XL Pass selama di Jepang, isi paket XL Combo seratus ribu plus XL Pass nya seharga 350 ribu untuk tiga puluh hari. Untung kita pake XL Pass karena ada insiden yang mengharuskan kita belok Singapore dulu, jadi selama di Spore dan Hongkong (transit) pun kita masih bisa internetan, bandingkan dengan sewa wifi yang cuma bisa dipake di Jepang doang.

Sepengalaman kita XL Pass lancar jaya di Tokyo, Kyoto dan Osaka, tapi waktu di Tottori susah sinyal. Wajar soalnya kotanya memang jauh banget dan bukan kota besar. Intinya kalo untuk itinerary ke kota besar aja XL Pass bisa diandalkan.

Kira-kira demikian. Semoga bermanfaat. Assalamualaikum

*paansi

Jepang Bucketlist Trip (1) : USJ

Hari ini, Rabu, akhirnya gue dan Suami sampai di Indonesia lagi. Hamdalah. Dari post sebelumnya  di hari Senin, dimana kita udah gajelas banget di Jepang dari Sabtu, hari ini baru bisa mendarat di Indonesia *tepok jidat* *Hayati lelah*

Terlepas dari segala ke-menguras hati-an trip kami kali ini, tetap aja trip ini terseru dan memorable sekali buat kita, karena ini pertama kalinya kita main jauh ke LN segala setelah menikah hihi. Niat awal backpackeran aja ke Jepang dengan budget ngirit, sampai ketika nyusun itinerary dan budget lhaaa kok bengkak banget biayanya. Ternyata oh ternyata, kita berdua BM (banyak mau) haha terlalu banyak nih bucketlist kita berdua yang ingin (dan akhirnya bisa) dicentang dan dua-duanya gak mau ngalah dengan ngeles “kapan lagi kesini…” jadi harus kesampean.

Ngejar Harry Potter ke Osaka

Backpackeran macem apa yang berani-beraninya pengen ke theme park? Tapi gimana dong, namanya juga bucketlist ya harus berusaha diwujudin dong kalo ada kesempatan haha Jadi sebenarnya pilihannya ada 2 -eh 3 deng- mau ke Disneyland atau Disneysea, dan USJ. Cuma dipikir-pikir, Disneyland masih ada di Hongkong lah ya rada deketan dan bebas visa, mending Disneysea yang cuma ada satu sedunia. Terus gue baru ngeh belakangan kalo ada The Wizarding World of Harry Potter di Universal Studio Japan di Osaka. Kyaaaa… sebagai Potterhead (sok) sejati definitely-I-must-go!

Dengan harga tiket yang nyaris sejuta, plus Suami yang berkali-kali berusaha bikin goyah (suudzon aja gue ini) dengan bilang kalo disana ngantri berjam-jam lah, ga ngaruh, gamau ngalah, pokonya harus kesana, daripada nanti gue minta ke London langsung begimana cobaa..

Akhirnya hari ke-enam liburan kami, pagi-pagi sekali kita berdua berangkat dari penginapan kita di Kyoto menuju Osaka. Yup, dari Kyoto ke Osaka cuma perlu waktu kurang dari setengah jam naik Shinkansen. Cuma waktu itu Suami pengen kita ke terminal bus OCAT di Osaka dulu untuk pesen tiket bus besok ke Tottori baru lanjut ke USJ. Ternyata urusan pesan bus ini lama juga, makin siang gue makin gelisah. Keburu ngantre panjang ini mah zzz. Akhirnya jam  setengah 11 siang kita sampai di USJ. Antrean buat beli tiket udah panjaaang banget. Untungnya kita berdua pinteran dikit, udah beli tiket USJ duluan dari Jakarta jadi bisa langsung melenggang masuk haha So much win~

Ternyata di dalam sih terhitung masih sepi (walaupun ya rame juga). USJ ini terbagi jadi beberapa area, tapi tentu aja kita langsung menuju The Wizarding World of Harry Potter yang kabarnya antrean pengunjungnya paling panjang. Yang penting bucketlist kecentang dulu~ Begitu sampai disana, rasanya gue mau histeris wkwk Imajinasi masa kecil gue dari umur sepuluh tahun pas pertama baca bukunya kali ini terpampang di depan mata. It was amazing. Mau nangis. Lebay tapi beneran gimana dong haha

image

Jalan menuju area The Wizarding World of Harry Potter dikelilingin dinding rumput tinggi (boongan sih) ala-ala maze di buku keempat. Terus ada mobil terbang Ford Anglia dari buku kedua. Gerbangnya juga dibuat mirip deskripsi buku banget. Hogwarts Expressnya dengan kepulan asapnya. Desa Hogsmeade dengan toko-toko ajaibnya apalagi. I was totally impressed! Gue sampe ga tahan untuk ga masuk ke toko tongkat sihirnya Ollivander dengan ngantri hampir 20 menit padahal tujuan awal kita mau langsung ke wahana 4K3D nya. Disini scene nya dibuat persis kaya di buku pertama waktu Harry beli tongkat sihirnya. Kereeen.

Setelah dari toko Ollivander kita langsung menuju ke wahana The Forbidden Journey in 4K3D nya sebagai wahana wajib kalo kesini dengan antrean 90 menit saja sodara-sodara, bener-bener mengular deh sampe jauuuuh antreannya. But it was totally worthed the wait! Wahana ini adanya di dalam kastil Hogwarts, lengkap dengan ruangan Dumbledore dan lukisan-lukisan yang bisa bicara, nanti bakal ada ride untuk kita naik dan kita dikasih kacamata 3D, kemudian rasakan sensasinyaaa haha

A potterhead must add this to their bucketlist, definitely. Gue dan Suami bahkan beruntung bisa naik wahana ini kedua kali pas udah Maghrib gitu dan ga ngantri sama sekali haha Puasss banget pokonya. Jadi waktu yang pas buat ke wahana HP ini antara pagi sekali pas rada sepi (antre 90 menit itu termasuk sebentar lho) atau ya sekalian aja Maghrib pas mau tutup, bebas antre~

image

Dan BM gue selanjutnya tentu aja: beli souvenir! haha gemas gemas sekaliii, tapi harganya gak gemas 😦 Banyak banget pernak-pernik dijual disana mulai dari tongkat sihir, coat dan syal asrama, mug, gantungan kunci, sampe snack. Akhirnya gue beli sekotak coklat dengan kaleng lambang Hogwarts, sekotak kue dengan kaleng gambar Harry, sama satu mug Butterbeer yang dibeli sekalian nyobain Butterbeernya. Yuhuuu, abis ini puasa ya :”””

image

Abis puas di dunia sihirnya HarPot yaudah kita berdua nothing to loose muter-muter USJ dan main wahananya. Mulai dari Backdraft tentang pembuatan film pemadam kebakaran, awalnya bosan endingnya ngagetin! trus Jaws ‘main’ sama hiu, lalu ke Spiderman ngelawan penjahat. Ketiduran di Terminator. Mainan bocah di wahana Snoopy sama Elmo. Naik carrousel. Dan yang paling seru, naik another level of roller coaster di Space Fantasy. Sebenernya ada roller coaster yang lebih seru lagi tapi… gue masih sayang jantung sih :p

Intinya mainnya kita ke USJ ini menyenangkan sekaliii. Kita bahkan ’til drop banget disana sampe tutup, gamau rugi berhubung tiketnya mahal haha Buat kalian yang ke Jepang, tepatnya Osaka dan ada budgetnya, apalagi kalo kalian Potterhead, gue sih rekomendasiin buat kalian main ke USJ, Osaka. Cause boys will always be boys, and -I bet- so does the girls. Have fun everyone!

image

Luntang-lantung di….

…. Jepang!

Yap, bermula dari ada tiket promo di salah satu agen tiket di Instagram bulan Januari lalu, gue dan Suami pun tertarik dan memutuskan beli tiket untuk trip di bulan April demi Sakura-an di Jepang. *pengen mention tapi masih nunggu itikad baik mereka nih*

Long story short, persiapan yang bikin migrain pun kita lakuin mulai dari  bikin itinerary, pesan akomodasi dan urus visa yang akhirnya beres 2 minggu sebelum keberangkatan.

Kemudian…. H-6 jam keberangkatan (yang mana kita kudunya berangkat jam 12 malam dan saat itu jam 6 sore) Suami telepon dari tempat kerjanya di Bandara dan bilang kalo barusan agen tiket tsb telepon ke dia kalo kita gabisa berangkat naik pesawat dengan tiket yang kita pegang! Whaaatttt…. how dare you…. %_#*;!,^@*

Akhirnya setelah kalang kabut di Bandara *untungnya kantor Suami di Bandara* disepakati dan didapat jalan keluar yaitu: Si agen kasih kita tiket ke Singapore, plus penginapan dan nanti dia akan issue tiket ke Jepang dari Spore. Dengan pasrah dan gambling yaudalah kita oke atas opsi itu. Semua berjalan lancar sampe kita berdua sampai di Jepang dan liburan seneng-seneng selama 8 hari.

Nah…. kita dijadwalkan balik hari Minggu flight pagi, jadi kita sengaja ga pesan penginapan karena bakal bermalam di Narita. Sialnya, si admin malah susah dihubungi. Dia bilang kalo flight Minggu penuh semua, gimana kalo baliknya Senin dan dia bakal kasih penginapan. Suami tetep kekeuh Minggu karena kita kudu kerja. Setelah itu blassss, admin gabisa dihubungi 😭😭😭  Waktu itu udah malem di Shinjuku, penginapan di Trav*loka dan B*oking.com abis semua. Kita muter muter Shinjuku cari hotel tapi antara full booked atau ratenya kemahalan. Akhirnya kita stay di McD sampe tutup sekitar jam 4 pagi. Beneran kaya gelandangan T.T

Singkatnya kemudian kita nemu penginapan utk book 2 hari sampai Senin, sesuai hari yg dijanjikan admin.

And here we are, Senin, si Admin masih gabisa dihubungi. Kita pernah ada dikasih ‘tiket balik sementara’ dari Narita Airport, asumsi kita mungkin beneran pake tiket itu bisa pulang, ternyata….. kita ga dibolehin check in karena cc tidak valid. BYE. mau nangis. untung sama Suami

Dan lagi, malam ini kita gatau mau kemana. Kita sih bisa banget beli tiket balik sendiri langsung besok pagi, tapi mana tanggungjawabnya wooooy?! Bukan cuma rugi materiil tapi juga sakit nya tuh luwarbiyasak dibikin terlunta-lunta sama oknum ga bertanggungjawab 😤😤😤

Doain kita berdua bisa pulang ya. hiks Nantikan ending nya ya, semoga ada titik terang.

……….

Kalo ga ada tanggungjawabnya, kita akan posting nama agen tiket promo Ig nya!

CGK-SIN-KUL-CGK : Sabtu 9/4/16 (2)

Tha Day

Setelah persiapan H-1 yang penuh drama gegara ga enak badan dan belom packing, akhirnya gue siap berangkaaat~ Flight jam 11 pagi dan 3 jam sebelumnya udah nge-Damri berangkat ke bandara. Udah check-in online jadi santai dan sempetin sarapan dulu (sebelum kudu bayar makan pake dollar ye kan hha). Proses imigrasi cuma bentar, nunggu di lounge bentar, akhirnya kita berangkaaaaat…

20160409_124631
Now everyone can fly katanya mah~

Changi Airport~

Setelah sekitar 2 jam, mendarat juga kita di Changi Airport, diiringi gerimis. Kita udah prepare sih soalnya memang di Accuweather bilangnya Singapura bakalan hujan selama kita disana hiks Ciee jadi juga akhirnya ke luar negeri haha *norak* Setelah beres urusan imigrasi, nah disini mulai kebingungan cari jalan keluar di bandara segede itu hiks

Langkah pertama pokoknya ambil semua brosur wisata yang ada petanya! haha S-e-m-u-a… dari mulai yang gede sampe yang kecil. Mulai dari peta MRT sampe peta Singapura nya sendiri. Fix jadi Dora the explorer. Ga lupa juga isi botol minum di keran air minum bandara, irit beberapa dollar buat beli air kan mayan ya. Kemudian kita muter-muter cari tempat yang jual Singapore Tourist Pass (STP) yang berguna sebagai free pass kita untuk naik MRT dan bus di Singapore, ada yang untuk 1/2/3 hari seharga SGD38, katanya. Kita yang hilang arah akhirnya memutuskan naik Skytrain dari Terminal 2 ke Terminal 3 tempat dimana MRT berada. Sampai sana ternyata… loket yang jual STP adanya di Terminal 2 di office mereka. Ga shanggup balik Terminal 2 lagi dong, akhirnya kita beli kartu MRT biasa aja (EzLink) seharga SGD12 (berisi saldo SGD 7) dan sekalian top-up SGD20.

20160409_142830
Ada sakura di Changi :p

Let’s get started…

Akhirnya kami berhasil keluar bandara yeaaay! Dari terminal 3 di Changi St. kita naik MRT sampai stasiun transit Paya Besar Station terus lanjut naik MRT lagi ke Nicoll Highway St., stasiun yang paling deket sama penginapan kita nanti.

Penginapan kami ada di Aliwal Street, sekitar 10 menit jalan kaki dari Nicoll Highway St. Kemudian kita check in dan nyerahin uang deposit SGD20. Sampai kamar kita istirahat, beberes dan akhirnya ada wifi buat update sosmed kasih kabar orang rumah dan download peta.

Setelah istirahat dan packing ulang, kita jalan-jalan disekitar penginapan yang ternyata letaknya cukup strategis, dekat sama Arab St., Baghdad St., Malay Heritage Culture, Kampong Gelam, dan Sultan Mosque. Disini kita rapel makan siang sama malam di  Kampong Glam Cafe dengan menu nasi lemak (ayam telor) seharga SGD 3.50  dan Mee Shiam seharga SGD4.50.

20160409_175845
Sultan Mosque
20160409_175337
Malay Heritage Centre
20160409_182443
Street view~

Setelah jalan-jalan disekitar penginapan tadi, kita naik MRT lagi menuju Marina Bay Sands. Disana kita jalan-jalan di mall The Shoppes at Marina Bay Sands, duduk-duduk di sekitaran situ sambil menikmati view nya sambil nunggu laser show di Esplanade yang ada tiap satu jam sekali. Dari sana di kejauhan bisa keliatan Singapore Flyer, the famous Marina Bay Sands hotel, bahkan patung Merlion (walaupun kecil banget karena jauh kan).


Setelah puas nikmatin view di Marina Bay Sands dan nonton laser show, kita lanjut jalan buat liat Garden by the Bay dari dekat. Emang ya, view disana pas malam hari emang juara! Sebenernya di Garden by the Bay ini ada free light show, jadi lampu nya nyala sesuai lagu. Kebetulan pas light show nya lagi ada di atas mall jadi bisa keliatan dari jauh.

View Garden by the Bay ini favorit banget buat gue. Walaupun kita cuma berkesempatan buat jalan-jalan aja, tapi view super tree nya aja udah baguuus banget lampu-lampunya di malam hari. Next time kalo kesana lagi pengen banget masuk ke flower dome, cloud forest dome sama naik OCBC Skyway nya.

Gara-gara keasikan berlama-lama di Garden by the Bay ini jadi aja kita buru-buru ngejar biat ga ketinggalan MRT terakhir. Sampai penginapan langsung tepar sampe besok paginya lagi haha~

CGK-SIN-KUL-CGK : Preparation (1)

Awalnya…

Awalnya iseng aja ngajakin Aa buat nyoba ke luar negeri, tapi belom mau dia dengan alasan Indonesia aja belom dijelajahin semua haha Yaudalah lupakan… sampai awal tahun 2016 ini gue add official LINE AirAsia dan sering dapet chat promo mereka dan iseng forward chat ke dia haha Akhirnya pada suatu hari, pas ada promo yang lumayan murah, dia tiba-tiba bilang udah beli tiket aja buat berangkat awal April. Uyeee~ Tiket promo kita seharga Rp329000/pax saja including airport tax. Tiket pulangnya? Tar dulu deh haha

Setelah browsing sana-sini gue mendapati bahwa dari Singapura ke Malaysia itu gampang banget bisa lewat jalur darat, jadi gue kasih ide buat kita sekalian main juga ke KL dan dia setuju hahaseek Jadi tiket pulang kita beli buat dari KL ke CGK seharga Rp420800/pax sajaa including airport tax. Alhamdulillah yah~

Dari Singapura, kita naik bis ke Johor Baru dulu, dari JB baru kita naik kereta ke KL. Bisa sih langsung Singapura-KL tapi tiketnya lebih mahal~ Tiket KTMB bisa dibeli disini (sayangnya kudu pake kartu kredit belinya, abege kaya gue mana punya hiks akhirnya minta beliin temen pake kartu kreditnya haha). Berhubung perjalanan malam, jadi kita naik sleeper train jadi bisa bobok selama perjalanan.

Paspor

Ternyata banyak yang harus disiapin dan kita malas. H-1 bulan berangkat tapi kita belom punya paspor haha Untung kantor kita di area bandara dan ada kantor imigrasi nya jadi disela jam kantor kita bisa urus paspor (bisa pantau nomor antrean online lhoo) dan dalam 1 hari jadi kok, tanpa calo, dan bisa diambil 3 hari setelahnya. Biaya bikin paspor sekitar Rp300000 (bukan e-paspor). Syaratnya cuma Akte lahir asli, Kartu Keluarga asli, KTP, dan Surat Keterangan Kerja dari kantor bagi yang KTP nya bukan di daerah imigrasi tsb.

20160322_142545
Buku paspor dahulu, buku nikah kemudian.. Aamiin

Penginapan

Browsing sana-sini muterin traveloka, akhirnya pilihan nginep kita di Singapura jatuh pada 5footway.inn Project Bugis berdasarkan rekomendasi temen. Model kamarnya dormitory gitu, ada yang 2 bed atau 4 bed. Kami pilih yang 4 bed dan ternyata aslinya memang enakan kamar yang 4 bed soalnya kamar 2 bed nya sempit. Disini kami dapat seharga Rp450000/pax/2 malam plus diskon 10% dari traveloka yeeyeye~ Oya, pas nginep kita juga kudu bayar deposit SGD20/key dan nanti dibalikin lagi pas kita checkout.

Disini sudah include sarapan pagi (roti dan sereal), free kopi/teh/milo/air mineral, plus wifi yang kenceng binggow. Berhubung gue terlalu irit dan ga rela +-SGD 30 buat beli SingTel jadi wifi penginapan ini andalan banget deh haha Ada self service laundry juga bagi yang mau dan setelah checkout pun kita boleh titip barang dulu gratissss jadi gak perlu bawa-bawa tas seberat dosa kalo masih mau jalan-jalan sebelum flight pulang.

Mereka juga nyediain free postcard dan bisa dikirim ke alamat tujuan kita (overseas sekalipun) cuma dengan bayar perangko 60 cents sajo. Kewl~ Pokoknya recommended.

Collage_2016-04-16_21_29_42[1]
Penginapan di Spore

Tiket Sentosa

Setelah tiket flight pergi-pulang, transport SG-KL dan penginapan kebeli, kita mulai susun itinerary yang mana bikin pusiiing haha Banyak maunya sementara waktunya terbatas. Belum lagi buta peta, cari referensi sana-sini supaya nanti disana rute nya enak dan ga buang waktu puter-puter tanpa arah. Setelah itinerary fix, baru kita beli tiket wahana di Sentosa Island disini. Web wisatasingapura ini membantu banget, ada contoh itinerary nya dan banyak paket tiket wahana yang jatuhnya lebih murah. Akhirnya kami beli satu paket tiket untuk ke Madame Tussauds, Image of Singapore dan Wings of Time seharga (lupa tepatnya) sekitar Rp750000/2 pax. Kita hampir gajadi beli ini soalnya kita sampe sana weekend dan kantor mereka untuk tukar tiket asli tutup kalo weekend, untungnya adminnya helpful dan responsif banget ngasih kita solusi.

So, we’re ready to go abroad for the very first time~ Syalalala~

20160409_101019.jpg

Irwansyah dan Zaskia Sungkar ready to go international~ nananana

Throwback : Bonus 3676 mdpl (4-end)

Karena tujuan kita, Mahameru, Alhamdulillah udah tercapai, jadi semua kejadian setelahnya kita anggap bonus ya haha

Waktunya Turuuun

Setelah puas foto-foto dan makan makanan selebrasi (coca-cola atau fanta sama apa gitu lupaa), waktunya kita turun. Asap dari kawah yang beracun itu bikin kita gaboleh terlalu siang berada diatas supaya tetap aman. Oya, sadly, pas diatas Patong baru sadar kalo hp nya ilang. Udah muter-muter nyari tapi tetep ga ketemu. Mungkin jatoh di bawah tadi selama jalan naik. Sabar ya, tong, yaa :”

Perjalanan nurunin trek pasir ini seruuu abis haha Ga sesusah waktu naik, kita tinggal meluncur di pasir aja untuk turunnya. Sepatu jadi penuh kemasukan pasir deh. Dan karena meluncurnya suka kecepetan, gue beberapa kali ilang keseimbangan dan akhirnya jatoh guling-guling di pasir haha Puas banget kayanya waktu itu Aa ngetawain gue :p Sesekali kita berdua sengaja duduk buat ngeliat pemandangan sekitar. Ga nyangka kalo tadi gue bisa ngelewatin itu semua ck ck Oya, di atas situ panas nya ga ada dua huhu

Butuh sekitar satu jam buat gue seluncuran di pasir (lagi-lagi lelet kan), terus lanjut jalan sampe Arcopodo. Begitu kita sampai tenda (tendanya panas banget btw), kita nyempetin tidur bentar sebelum melanjutkan perjalanan pulang kita lagi. Rencananya kita bakal nginep semalem lagi di Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo Lagi ..

Sekitar sore, kita lanjut jalan pulang. Lewat Kalimati lagi. Teruuus jalan sampai di Cemoro Kandang. Kemudian ketemu Oro-oro Ombo lagi. Setelah menuruni tanjakan cinta, akhirnya kita sampai juga di Ranu Kumbolo lagi. Alhamdulillah..

15 September 2013

Ga seperti pagi pertama di Ranu Kumbolo yang berkabut, pagi itu cerah banget. Asiknya kita bisa liat kecantikan Ranu Kumbolo dengan lebih jelas yeaay 😀

sewaktu matahari nya masih ngintip hihi

Setelah puas nikmatin Ranu Kumbolo buat yang terakhir kalinya, kita pulaaaang ..

fullteam berlima 😀

                                        see you later 😀

Perjalanan turun tuh tanpa beban banget rasanya, badan jadi seringan kapas haha Ranu Kumbolo sampai Ranu Pani memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan. Sore nya, kita sampai di Ranu Pani, terus naik truk lagi menuju peradaban haha. Dan, sadly again, sekarang giliran jam nya Patong ketinggalan di Ranu Pani 😦

Pasar Tumpang

Sekitar jam 7an kita diturunin di entah-bagian-mana nya Tumpang, kabupaten Malang. Yap, kita yang satu truk bareng hilang arah, ga ada yang tau Pasar Tumpang itu di sebelah mana haha Akhirnya ada yang mutusin buat cari Masjid aja, sementara kita berlima mutusin buat cari makan. Akhirnya makan enak lagi yeeeay! 😀

Abis makan kita ketemu sama pendaki yang waktu berangkat kemarin join-an truk bareng, dan kita ditunjukkin arah ke Pasar Tumpang. Alhamdulillah, deket kok ternyata 😀 Di Pasar Tumpang itu kita dapet tumpangan di rumah Bapak-Ibu yang nyewain truk. Rumah mereka emang udah biasa di-inepin sama pendaki Semeru. Disana kita ngantri mandi dan numpang tidur untuk kemudian pulang esok harinya.

Malang

Kereta kita berangkat jam 3 sore, jadi masih ada waktu buat jalan-jalan di kota Malang. Beneran jalan loh ya ini haha.

               jalan-jalan kota dengan carrier segede gambreng

                 katanya harus nyoba baso bakar ini kalo ke Malang

                               beli oleh-oleh teteup dong yes

Kemudian jam 3 sore nya kita udah duduk manis, aman, nyaman di kereta eksekutif menuju Jakarta. Terimakasih tiket promo KAI, gue jadi bisa tidur pules selama perjalanan 😀

16 September 2013

Jam 7 pagi kita sampai di Jakarta lagi, Stasiun Gambir, terus dijemput sama Papa nya Aa (Makasih yaa, Om 😀 #sungkem). Dan berakhir deh perjalanan kali ini, menyisakan pe-er untuk mutihin lagi muka yang gosong parah hahaha But it’s totally worth it!

Terimakasih temen-temen seperjalanan gue kali ini, terutama Aa, yang udah nemenin bikin gue sukses naik gunung untuk yang pertama kali nya. Yeaaay! Can’t wait for another trip 😀

                             Thankyou and see you, fellas 😀