A New Chapter Has Begun… : Vendors (2)

Seragam Keluarga

Dalam sebuah acara pernikahan, gak cuma pengantin dan keluarga inti aja tapi keluarga besar juga punya peran besar jadi harus kece juga dong yaa. Berhubung acara resepsi kami bertema nasional, kami memutuskan untuk gak menggunakan kebaya sebagai seragam para tante, melainkan gamis. Pertimbangannya, gamis pasti lebih nyaman dan masih bisa dipakai ke acara lain dilain waktu.

Ada sedikit perbedaan antara keluarga besar gue dan suami. Keluarga besar gue sepakat kalo gue cukup beliin kainnya aja untuk dijahit masing-masing. Jadi model baju setiap orang beda-beda walaupun kainnya sama. Sedangkan para om sepakat untuk menyewa beskap masing-masing, biar meringankan kami katanya. Terharu :”” Kain untuk para tante terdiri dari dua warna, peach muda dan toska, dibeli di Toko Median, Pasar Baru, Bandung.

wp-1499834807534.jpg
Kain peach-toska untuk para tante. Ternyata beda model baju tiap orang malah jadi bagus kan..

Sedangkan untuk keluarga besar suami diputuskan untuk membeli gamis jadi di Thamrin City. Setelah muter-muter nyari gamis yang warnanya pas, ada pilihan ukuran dan sesuai budget dan itu susaaah banget, akhirnya ketemu juga gamis yang sesuai, warna peach-pink muda seharga Rp140.000/pcs.

wp-1499834803024.jpg
Seragam keluarga besar Suami. Kece yaa B-)

Foto Prewedding

Awalnya kami gak berencana untuk foto prewedding karena selain menghemat budget, kami gak fotogenik anaknyaa haha Rencananya mau pajang aja foto-foto lama karena kebetulan kami suka jalan-jalan bareng. Etapiii… setelah disortir kok rasanya koleksi foto kami gak layak tayang ya haha Kebetulan kami emang lebih sering jalan-jalan dan liburan outdoor, dan ntah kenapa tipe kulit muka gue cepet banget gosonggg, kalau ke mall pun cuma bisa sepulang kerja dimana udah lepek banget jadilah foto-foto kami penuh dengan muka kucel hiks

Setelah maju-mundur, H-1 bulan kami mantap buat foto prewedding, tapi di studio aja biar ga ribet dan harus murah! haha Setelah browsing sana-sini ketemulah satu vendor kece, studionya deket kosan, dan lagi promo hanya Rp750.000 saja untuk satu jam sesi foto. Alhamdulillah hasilnya memuaskan bangeeet…

Prewedding kami hampir tanpa persiapan. Baju yang digunakan pun satu stel baju lama yang warnanya senada, dan satu batik couple waktu lamaran. Untuk makeup nya lagi-lagi gue bergerilya di instagram dan berhasil menemukan MUA kece dengan harga terjangkau.

This slideshow requires JavaScript.

Vendor foto prewedding : Derzia Photolab Studio (ig : @derziaphotolab)

MUA : Mba Ines (ig : @beautybyines)

 

Foto dan Video Wedding

Overall dengan budget yang kami miliki, kami berdua cukup puas dengan vendor-vendor pilihan kami. Hampir gak ada kendala yang berarti, Alhamdulillah. Kecuali satu, vendor foto dan video wedding kami :”(

Jadi untuk vendor foto dan video, kami pilih sepaket dengan Rias, Busana, Dekor, dan Entertainment tanpa banyak pertimbangan, selain karena murah banget, awalnya kami gak terlalu concern dengan dokumentasi. Kami cuma lihat sekilas sample album dan beranggapan paling sama ajalah hasilnya. Tapi ternyata dipertengahan, gue tanya nama vendornya ke WO supaya bisa kepo instagramnya, dan hasilnyaaa… gue ga terlalu suka sama portfolionya, bagus, tapi ga sesuai sama ekspektasi dan selera kami.

Setelah kepo itu gue jadi kepikiran dan nyesel kenapa gak cari tahu di awal ūüė¶ Gue coba hubungi pihak WO siapa tau masih bisa cancel untuk vendor fotonya, tapi ternyata udah dibayar lunas sama WO nya jadi gabisa lagi hiks Baru deh kebayang sedihnya acara nikahan yang kita siapin dengan maksimal tapi gak terdokumentasikan dengan baik.

Video Cinematic

Gue pun berusaha buat cari vendor foto lain, tapi ternyata vendor foto lain yang bagus emang jauh lebih mahal sedangkan vendor awal juga gak bisa cancel dan refund lagi. Sedih maksimaaal karena budget udah menipis…

Akhirnya setelah cerita ke calon Suami, kami sepakat untuk mengobati kekecewaan dengan tambah vendor lain untuk video cinematic. Kebetulan gue menemukan vendor asal Bandung yang gue suka video-videonya tapi harganya gak mahal. Untuk paket video cinematic yang kami pilih, harganya gak sampai tiga juta rupiah. Gapapa deh fotonya seadanya, setidaknya punya video yang bagus.

Alhamdulillah, ternyata keputusan kami tepat. Video cinematicnya bagus, sepadan lah sama budget yang dikeluarkan. Sedangkan foto dan video dari vendor awal beneran mengecewakan dan bahkan baru jadi 5 bulan kemudian. Bahkan sampe sekarang kami belum pilih foto yang akan diperbesar karena keburu bete huft *tepok jidat*

Vendor video cinematic : Quins Pictures, Bandung (ig : @quinspictures)

Cek videonya teaser nya disini.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

A New Chapter Has Begun… : Vendors

Undangan

Setelah dapet gedung di tanggal yang diinginkan, next step yang kami lakuin adalah cari vendor undangan. Thanks to Google, gampang banget cari rekomendasi vendor undangan di Jakarta dan mayoritas merekomendasikan Pasar Tebet Barat lantai basement sebagai sarangnya vendor undangan berkualitas bagus dengan harga murah.

Pilih vendor undangan kudu hati-hati bangeet soalnya kalo sampe jadinya ga tepat waktu atau hasilnya ga memuaskan pasti stresss berat, makanya gue survey dulu review di Google dan sampe bikin list vendor mana aja yang memuaskan dan ga memuaskan biar ga salah pilih. Akhirnya pilihan kami jatuh kepada vendor Putra Karya yang banyak dapet review bagus di blog dan kebetulan juga vendor undangan yang banyak dipakai teman-teman kami.

Di kios Putra Karya banyak terdapat sample undangan dengan berbagai jenis dan harga. Kami pilih jenis single board dengan amplop dan deal dengan harga Rp5500/pc untuk 550 pcs sudah termasuk kartu ucapan terimakasih, kartu penukaran souvenir, plastik, dan label nama. Proses pengerjaan sekitar satu minggu untuk revisi desain dan satu bulan untuk proses cetak. Lebih lama dibanding waktu yang ditawarkan kios lain tapi jadi tepat waktu dan sepadan dengan hasilnya yang memuaskan bangeet.

Vendor : Putra Karya, Pasar Tebet Barat lantai basement.

Tips cari undangan di Pasar Tebet

  1. Survey di internet vendor mana aja yang reviewnya bagus dan jelek, saking banyaknya vendor di Pasar Tebet jadi jangan sampai salah pilih.
  2. Dateng lebih pagi sebelum rame biar puas lihat-lihat, karena kios-kiosnya kecil banget tapi calon pengantin yang dateng banyak.
  3. Keluarin kemampuan buat nego harga. Bandingkan harga dengan vendor lain atau dengan pengalaman teman kalian. Semakin banyak jumlah yang kalian pesan, harganya semakin murah.
  4. Perhitungkan dengan tepat jumlah undangan sejak awal, karena kalo ternyata jumlahnya kurang bakal mepet waktu dan mahal lagi biaya cetak tambahannya :” (tunjuk diri sendiri hiks)
indah ghaisandi3
Sneak peak desain undangan kami, peach, warna favorit gue :3

 

wp-1499828631825.jpg
Alhamdulillah undangan lancaaar sampai dibagikan

Souvenir

Selanjutnya adalah pemilihan souvenir. Karena budget yang kami alokasikan untuk souvenir hanya Rp5000/pc, opsi yang kami miliki pun gak banyak, antara lain lilin hias, dan tas blacu. Saking bingungnya urusan menentukan souvenir ini cukup lama tertunda, sampai kemudian kami menemukan salah satu vendor souvenir yang sebelumnya melebihi budget lagi diskon dan harganya paaas banget jadi sesuai budget kami. Alhamdulillah, rejeki anak soleh hihi Akhirnya souvenir pernikahan yang kami pilih adalah tanaman hias sukulen.

Vendor : Fuerte Garden, Lembang (Instagram : @fuertegarden)

Tips memilih sukulen sebagai souvenir :

  • Tanaman sukulen memang kecil, tapi penyimpanannya gak bisa ditumpuk sehingga menyita tempat dan perlu dikirim dengan kendaraan yang khusus karena jumlah souvenir kan pasti ratusan yaa. Perhitungkan budget pengiriman dan tempat penyimpanannya.
Souvenir
Souvenir pilihan kami ūüėÄ

Seragam Bridesmaids

Seragam bridesmaid itu opsional sih, lebih sekedar gemes-gemesan tapi juga semacam bentuk gratitude untuk sahabat-sahabat kesayangan kita.

Bridesmaid gue jumlahnya 10 orang, 5 temen SMA, 1 temen kuliah dan 4 temen kosan selama kerja. Untuk  temen kuliah dan kosan, gue memutuskan kebaya kutubaru warna peach dan bawahan kain lilit. Sedangkan untuk temen SMA, mereka udah kode ga mau kutubaru, jadilah gue milih two-toned blouse warna burgundy-pink dengan bawahan kain lilit juga.

Gue pilih beli baju dan kain jadi secara online via instagram untuk semuanya, selain supaya mereka ga perlu cari penjahit lagi, juga supaya gue ga ribet cari kain secara gue gapaham dunia perkainan.

 

image
Kutubaru peach dan kain lilit hitam

 

 

image
Burgundy-pink blouse dari @local.id dan kain lilit songket @chandani.id

 

Selain atasan dan kainnya, biar makin lucu gue juga sengaja custom tas serut blacu dan bikin bridesmaid cards. Gue pesan pouch blacu seharga RP10.000/pc dengan minimal order 20 pcs via instagram @packlicious. Demi menghemat budget, gue cetak sendiri kartu bridesmaid di percetakan seharga Rp20.000 saja untuk 16 pcs kartu, jauh lebih murah daripada pesan kartu di vendor. Desain tas blacu dan kartu nya gue bikin sendiri dengan comot sana-sini vector gratisan dari google dan di edit seadanya via paint (yap, gue segaptek itu :”) Walaupun sedanya tapi jadinya puasss banget ngasih ke sahabat-sahabat dengan effort sendiri ūüėÄ

 

Collage 2016-09-30 12_10_16
Desain pouch ala-ala

 

 

bersambung…

A New Chapter Has Begun… : Wedding Preparation

Niat nulis blog gue pasang-surut sekaliii. Kemarin-kemarin sempet semangat cerita liburan, terus udah bosen lagi ūüė¶ Akhirnya sekarang memantapkan diri untuk nulis cerita lain selain jalan-jalan berhubung there will be many interesting days to come…, yaitu tentang hari pernikahan gue enam bulan yang lalu! hahaha Yep, I’m a married lady now :p

The Engagement

Persiapan pernikahan kami lumayan singkat, sekitar empat bulan semenjak lamaran. Bahkan persiapan lamarannya lebih singkat lagi, hari Senin mendadak proposalnya, hari Rabu ke rumah buat melamar personal ke orangtua, dan Sabtu nya langsung lamaran resmi kedua keluarga. Kilat abisss… haha No fancy engagement ala-ala masa kini (untung masih sempat cari batik couple! haha), no engagement ring, no proper documentation,¬† yang penting isi acaranya adalah lamaran secara Islam.

 

6
Karena gak punya foto pakai engagement ring akhirnya waktu prewedding maksa minta difoto pose begini pake cincin buat akad nanti :”

 

Persiapan Finansial

Berhubung gue dan Suami sudah dekat dan bertumbuh bersama kurang lebih tiga tahun, jadi sebelumnya udah pernah ada pembicaraan personal soal nikah-menikah ini. Concern kami sih sebetulnya di masalah biaya haha We all know that nikah itu ga murah ya, dan sebisa mungkin kami gamau ngerepotin orangtua, apalagi pesta pernikahan gini kan gak wajib sifatnya biar keliatan dewasa haha. Makanya begitu punya gaji sendiri dua tahun lalu kami sepakat untuk nabung masing-masing untuk dana menikah nantinya. Entah kapan waktunya, entah beneran kami berjodoh atau nggak (untungnya jodoh hihi), tabungan khusus untuk biaya nikah ini kami rasa perlu dan memang terasa sekali manfaatnya.

Makanya begitu Suami dapat lampu hijau untuk menikah dari keluarganya, doi pede aja langsung ngelamar gue dan merencanakan pernikahan kami karena ya… secara finansial juga udah siap. Alhamdulillah pernikahan kami bisa diselenggarakan dengan 90% dana kami berdua, walaupun sederhana banget tapi rasanya pencapaian sekali buat anak kemarin sore kayak kami bisa bertanggungjawab sama pilihan kami sendiri ūüėÄ

Tips Ala-ala :

  1. Buat tabungan khusus dana nikah, baik untuk yang masih sendiri ataupun yang udah punya calon. Ada kepuasan tersendiri kalo bisa menggelar pernikahan dengan usaha berdua, percaya deh.
  2. Terbuka sama pasangan tentang kondisi keuangan dan sepakati proporsi pembagian dananya. Ini penting, jangan sampe salah satu pihak merasa keberatan atau jatoh miskin demi nikahan *lebay* Lagian kalo udah memutuskan untuk menikah kan harusnya udah senyaman itu ya, termasuk saling terbuka masalah finansial.
  3. Budgeting itu penting. Setelah tau berapa dana yang dipunya, alokasikan ke masing-masing pos, berapa budget dekorasi, budget untuk undangan, dll. Nah budget ini kemudian kita pakai sebagai dasar pencarian vendor. Secara kita pasti pengennya yang terbaik sedangkan dananya gak selalu mendukung kan. Misalnya budget undangan kita cuma Rp6000/pcs ya gak usahlah liat-liat undangan yang hardcover ya kan haha *ini mah gue*
  4. Jangan males survey harga. Apalagi sekarang udah ada internet gampang banget cari informasi vendor pernikahan, siapa tau ada promo atau ada vendor bagus dengan harga miring. Gue biasanya baca blog orang, cari vendor di instagram dan install aplikasi Bridestory.
  5. Terakhir, suka kelupaan tapi penting, pastikan buat pos pengeluaran sedetail mungkin. Karena yang sebenernya printilan ternyata kalo dijumlah lumayan juga nominalnya. Misalnya, honor petugas KUA, honor keamanan, parkir, dsb.

Pencarian Venue

Berhubung latar belakang gue adalah lahir di Subang tapi besar di Bekasi dan kerja di Jakarta, dan latar belakang Suami yang lahir dan besar di Bandung tapi sejak tiga tahun lalu sekeluarga udah pindah ke Jakarta, memilih di kota mana kita bakal menikah juga jadi pe-er tersendiri.

Sebagian besar teman, sahabat dan rekan kerja kami adanya di Bekasi dan Jakarta, sementara teman dan sahabat Suami banyak di Bandung, tapiii keluarga gue sekarang udah tinggal di Subang. Jadi pilihannya antara Bandung, Subang, atau Jakarta sekalian.

Akhirnya dengan banyak pertimbangan akhirnya kami memilih Subang sebagai tempat pernikahan kami. Subang jaman sekarang sangat affordable ditempuh dari Jakarta, Bekasi maupun Bandung. Bisa naik kereta ataupun mobil pribadi dengan berkendara 2.5 jam sajaa via Cipali (promosi kampung sendiri haha). Plusnya lagi, antrean gedung di Subang gak se-gila di Jakarta yang perlu booking satu tahun sebelumnyaa, walaupun pilihannya jadi sangat terbatas. Alhamdulillah kami berhasil dapat gedung yang letaknya strategis, kapasitasnya cukup dan sesuai budget.

 

Dekor 2
Dekorasi akad sederhana

 

bersambung…

 

Japan Bucketlist Trip (5) : Kulineran di Negeri Sakura

We’re not really into Japanese food, tapi ya sesekali suka juga cari makanan Jepang yang lagi hype, demi biar ga penasaran aja. Berhubung lagi di kampungnya langsung, tentu aja agenda berburu makanan Jepang ga kami lewatkan.

Seperti diketahui, barrier buat kami sebagai Muslim untuk bisa makan makanan di Jepang kapan saja dimana saja adalah ke-halal-annya. Tenang aja, hampir semua jenis makanan Jepang ada kok resto halal nya, cuma gak banyak jadi kita harus banyak cari info.

Ramen

Resto dengan ramen halal yang kami dapet infonya adalah Naritaya Halal Ramen. Di Tokyo, Naritaya Halal Ramen bisa dijumpai di Asakusa. Sayangnya, walaupun kita sampai empat malam nginep di daerah Asakusa, gak sekalipun kita berhasil makan disana. *sad*

Tapi gak jadi sad. Soalnya ternyata Naritaya Halal Ramen ada juga di Kyoto *yeaaay* Jadi sengaja banget tuh kita cari-cari kedainya itu, lewat gang-gang kecil, agak susah ditemuin tapi untung ada google maps andalanque~

Naritaya Halal Ramen, Kyoto, ada di daerah Gion. Kedainya kecil, kapasitasnya gak sampai 20 orang. Menunya sendiri terdiri dari beberapa jenis. Ada ramen berkuah ataupun nggak. Harganya standar resto Jepang sana, rata-rata 1000 yen per porsi.

Untuk rasanya sendiri lumayan. Gak sampe enak banget sih menurut gue. Atau karena ramen yang dijual di Indonesia udah disesuaikan sama lidah lokal kali ya? Kayanya udah kebanyakan mecin nih lidah gue disini hahaha

Oya, selang beberapa kedai dari Naritaya Halal Ramen, Gion, ada satu resto halal lainnya yang menyediakan yakiniku, Naritaya Halal Yakiniku. Kami sih ga sempat makan disana karena harganya buuuk, diatas 2000 yen saja per porsi *menatap nanar dompet*

Sushi

Makanan Jepang yang enaknya tiada tanding adalah… sushiiiiiii. Pokoknya kami bertekad kudu. makan. sushi. di Jepang. titik.

Tapi kami gabisa sembarangan makan sushi disana karena kebanyakan kecap asinnya gak halal huhu Untungnya dihari-hari terakhir kami di Tokyo kami berhasil nemu satu resto sushi yang menyediakan kecap asin yang bersertifikat halal. *cheers *rejekianaksoleh

Resto ini bernama Uobei Sushi, di Shibuya. Begitu sampai disana, duh antre aja dong panjang… Begitu giliran kami, kami langsung diantar ke bangku yang kosong dan bisa langsung pesan sushinya sendiri via touchscreen yang telah disediakan. Begitu pesanan selesai, syuuuuu~ sushi yang kita pesan pun meluncur dengan moving tray tepat ke hadapan kita. Oya, jangan lupa pesan juga kecap halalnya ya, gratissss.

Pilihan sushinya beragam sekali. Ada dessert juga. The best part is… harganya murah dan enak cuy! Mayoritas seharga 100 yen saja per plate. *joget* Berhubung udah hari-hari terakhir alias duit menipis, jadi budget kami sekitar 1000 yen aja berdua. Dengan uang segitu kami bisa dapat 7 plate sushi dan satu porsi eskrim. Really worth every penny~

Takoyaki

Not really a fan of takoyaki, tapi Suami sukaaak banget. Takoyaki disana beda sekali sama disini yang banyakan tepungnya, disana potongan guritanya berasa banget. Ntaps.

Selama di Jepang kami beberapa kali makan takoyaki ini. Dua kali di Mang-mang streetfood, dan satu kali di Museum Takoyaki, USJ, Osaka. Harga takoyaki di streetfood sekitar 500 yen isi delapan, sedangkan di Museum Takoyaki, USJ malah lebih murah lagi. Endeeees sekalee.

Udon

Akhirnya ku menemukanmu… Udon halal :” Kami yang waktu itu luntang-lantung di Airport dan kelaperan akhirnya browsing makanan halal di Narita Airport Teminal 2 dan menemukan outlet udon halal, Kineyamugimaru ini. Banyak pilihan menu yang tersedia dan harganya pun terjangkau mulai dari 400-an yen satu porsi.

Kami berdua pesan semangkok udon dengan tambahan kulit tahu. Banyak juga pilihan side dish yang bisa kita pilih, seperti tempura, katsu, atau onigiri.

Tempat makannya sendiri sangat nyaman, view nya juga bagus kita bisa melihat pesawat diluar airport. Jangan lupa sisa peralatan makan yang selesai kita gunakan dikembalikan lagi ya ke spot yang sudah disediakan.

Rice Bowl

Kalo abis explore terus kelaperan, biasanya outlet-outlet yang menjual rice bowl seperti Sukiya atau Yoshinoya paling sering kita kunjungi. Selain ada dimana-mana dan enak, harganya pun terjangkau, mulai dari 330 yen per porsi. Tentu aja setelah kita browsing dulu yaa untuk referensi kehalalannya. Ada beberapa menu yang mengandung pork, tapi kami siasati dengan pesan menu beef aja.

Di akhir perjalanan kami, saat kelaperan di Narita Airport, kami nemu satu outlet Yoshinoya. Uniknya, daftar menu di outlet tersebut terdapat gambar ilustrasi bahan pembuatnya. Misalnya, menu yang mengandung beef ada gambar sapi nya, sedangkan menu yang mengandung pork ada gambar babinya, dsb. Kami legaaa banget menu beef yang kami pesan selama ini gak mengandung babi, padahal menu vegetariannya ternyata mengandung babi :O Sayangnya, semua menu disana terdapat simbol alkohol ūüė¶ Cuma berhubung kami baru tau dan ada pendapat yang bilang gapapa selama ga memabukkan, ya ikhlasin aja deh ya :”” Semoga kita semua jadi bisa lebih berhati-hati.

Streetfood

Di Jepang, streetfoodnya menggoda sekaliii :3 Cuma ya harganya itu lhooo, minimal 500 yen atau sekitar 50 ribu rupiah *cry* Tapi rasanya enak-enak bangeet. Kami sempet nyobain takoyaki di dua tempat, king crab (ini paling endeees, gede banget kepitingnyaa), Taiyaki (kue bentuk ikan khas Jepang), dan lain-lain.

Ice cream

Kalo lagi ke Kawaguchiko, jangan lupa cobain soft ice creamnya yaaa. Lumayan buat foto-foto lucu berlatar eskrim dan Gunung Fuji, walaupun kudu kuat menggigil makan eskrim di udara sedingin ituu haha

Dan kunjungan kami ke Tottori semakin lengkaap dengan mampir ke Conan Cafe. Lihat-lihat merchandise dan beli Conan Gelato yang yummy sekalii. Bahkan cup gelatonya sampe dibawa pulang dong sama Suamik :”p

Tips&Trick

Selama perjalanan kami di Jepang, ada beberapa hal yang kami lakuin buat mensiasati kehalalan dan kemahalan makanan di Jepang sana..

-bawa abon, energen, kering kentang, cemilan, mie instan dan popmie, lumayan untuk sarapan beberapa hari pertama.

-bawa bon cabe dan saos sambal, karena bahkan di KFC nya disana gak ada saos sambal.

-bawa selai roti atau nutella, karena harga roti tawar disana murah  cuma 100-an yen.

-supaya murah, kami juga suka makan dengan beli satu atau dua onigiri di Lawson ditambah katsu, totalnya gak sampe 500 yen sekali makan dan lumayan kenyang.

-ada juga makanan di Lawson yang tinggal dihangatkan, harganya sekitar 500 yen juga, tapi selalu ingat buat cek ingredients nya.

Selamat berburu kuliner Jepang halal guysss!

-foto menyusul

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya datang juga ..

Semenjak punya tempat tinggal (baca: kontrakan) cuma berdua sama Suami dan lagi nabung banget biar segera punya rumah sendiri (Aamiin please?), kepo instagram sama pinterest tentang home ideas jadi rutinitas sehari-hari saat main socmed. Seneng ya ngebayanginnya kalo punya rumah minimalis, rapi, nuansa ivory atau natural kayu, dengan sedikit sentuhan shabby chic gitu. Hati rasanya hangat.

Salah satu akun instagram yang ratjun banget soal furniture yang gemay-gemay adalah ifurnholic. Pas banget furniture disana sesuai sama nuansa rumah (masa depan) yang gue mau, walaupun ada rupa ada harga yah, harganya ga bisa dibilang murah.

Salah satu item favorit gue dan udah ngidam bangeeet untuk beli adalah meja TV ini. Lucuuu ya? Ngelihatnya bikin pengen senyam-senyum sendiri. Tapiii dilema masih tinggal di kontrakan adalah, sayang buat beli-beli barang karena toh tujuan akhirnya bakalan pindah juga. Alhasil, waktu minta approval Suami, dia agak keberatan. Tapi akhirnya setelah dia nya oke, malah jadi gue yang ga pede haha Akhirnya gagal syudah si rak TV Macaroon lucuk ini nangkring di rumah ūüė¶

18382070_210937436069085_4619997505994620928_n
Si gemaaas Maccaroon by ifurnholic

Sampai akhirnya, gue berjodoh juga sama ifurnholic ini. Ceritanya, Suami gue punya banyaak sekali jaket yang dipake bergantian tiap hari. Jadi kebayang dong banyak jaket digantung dimana-mana dan cukup ganggu pemandangan di kontrakan mungil kami. Jadi gue merasa butuh sesuatu yang bisa menggantung jaket-jaket Suami dengan rapi, dan gampang pula diambil-ditaruh ketika mau dipake atau digantung kembali, jadi lemari dengan pintu is not an option. Sampai akhirnya gue menemukan ini…

18513441_799860873511168_738723439925264384_n
Hangerholic 2 by ifurnholic

Kyaaa, perfect kaan. Pas untuk gantung-gantung jaket Suami yang banyak itu, masih bisa simpan sepatu dibawahnya, dan enaak pula dilihat. Ukurannya pun ga seberapa besar jadi masih aman kalo nanti pindahan. Harganya  690 ribu plus ongkir 100 ribu.

Setelah ditunggu-tunggu sekitar dua minggu, akhirnya paket Hangerholic ini pun dateng dengan packing kardus yang rapi dan aman. Mudah banget dipasang, gak perlu obeng bahkan karena sudah disediakan alatnya. Alhamdulillah yaaa.. Overall puas sekali sama ifurnholic dan makin semangat nabung buat rumah impian kami nantiii. Insyaallah.

Visa Jepang : Requirements, Tips & Tricks

Kali ini gue mau share pengalaman bikin visa Jepang biasa (non e-passport) untuk trip gue bersama Suami awal bulan lalu.

Seperti yang udah diketahui, pemegang e-passport punya privilege untuk ke Jepang, bukan tanpa visa, melainkan dengan visa waiver. Bedanya apa? Visa waiver gampang sekali didapat, tinggal ke Kedubes Jepang untuk isi formulir dan bawa e-paspor nya, diambil besoknya. Selesai. Berlakunya pun maksimal tiga tahun dengan masa tiap kunjungan 15 hari, jadi bisa multiple entry. Segampang itu.

Berhubung waktu pertama kali buat paspor belum ada nyali buat jalan-jalan jauh, jadi kami cuma buat paspor biasa instead of e-passport, jadi lah untuk trip kami ini kudu apply visa jalur biasa ke Kedubes Jepang.

Requirements

Apply visa Jepang harus berdasarkan wilayah domisili ya. Misalnya untuk yang ber-KTP Jawa Barat, apply di Kedubes Jakarta. Untuk yang ber-KTP Jawa Timur di Konsulat Surabaya, dll. Kudu diinget banget nih, soalnya ada temen gue yang ditolak apply di Jakarta karena gak sesuai wilayah KTPnya yang beralamatkan di Sulawesi. Sedihh.

Mengutip dari web Kedubes Jepang di Indonesia, syarat membuat visa turis single entry atas biaya sendiri (beda tujuan beda lagi syaratnya) adalah sbb:

1 Paspor.
2 Formulir permohonan visa. Download (PDF) dari website disertai pas foto terbaru ukuran 4,5 X 4,5 cm, latar putih, amannya sih difoto di studio foto (supaya kualitasnya bagus)
3 Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili) di kertas A4 (jangan digunting kecil)
4 Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (bila masih mahasiswa)
5 Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
6 Jadwal Perjalanan download (DOC), berisi detail kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang. Inget ya, detail.
7 Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. Karena gue pergi sama Suami jadi kami melampirkan fotokopi buku nikah
8 Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Gue sih melampirkan slip gaji dan rekening koran 3 bulan terakhir.

Selain itu kami juga melampirkan bukti booking hotel sekalian.

Tips & Tricks

Tips ini murni hasil pengalaman dan ke-sotoy-an gue yah, sodara sekaliaaan..

  • Formulir Pengajuan Visa

Formulir ini bisa diisi langsung di komputer atau tulis tangan. Di Kedubes Jepang juga formulir ini tersedia kok, buat jaga-jaga ada yang salah isi.

Kemarin gue sempat bingung untuk pengisian halaman kedua, tentang Guarantor or Preference in Japan, sama Inviter in Japan, ternyata kalo kita memang atas biaya sendiri dan ga ada pengundang, kosongin aja.

  • Jadwal perjalanan

Bikin itinerary gak gampang ya, I know. Gue sempet migrain mikirinnya haha Sedangkan apply visa kalo bisa secepatnya, mulai dari H-3 bulan berangkat udah bisa. Jadi kemarin untuk apply visa nya gue pakai itinerary sementara aja hasil googling dan nyontek sana-sini.  Sedangkan untuk penginapan tentu ajaa hasil booking gratis dari Booking.com. Tapi jangan terlalu ngasal juga sih pas booking, mana tau besok-besok lagi malah sold out akomodasi yang strategisnya.

  • Dokumen biaya perjalanan

Baca di beberapa grup traveler, banyak yang risau masalah minimal saldo yang ada di rekening. Kemarin gue sendiri cuma ada saldo mengendap di tabungan sekitar lima belas juta rupiah. Sebenernya agak ngeri-ngeri-sedap juga sih, cuma ya gimana lagi adanya cuma segituu haha Alhamdulillah approved kok. Saran gue sih sertakan slip gaji juga sebagai bukti tambahan.

  • Datang pagi-pagi dan bawa makanan

Antrean dibuka mulai jam 8 pagi sampai 12 siang. Jadi disana nanti kita dua kali antre. Pertama datang, kita dikasih nomor. Kemudian kita antre sampai diperbolehkan masuk dan menukar KTP/SIM dengan nametag visitor.

Sewaktu gue apply visa memang lagi peak-season bertepatan dengan musim semi. Udah gitu kami agak siang datengnya sekitar jam 10 pagi. Alhasil, antrean udah mengular panjaaang sekali. Dan kami belum makan. Bye. Mau keluar lagi pun gabisa, kalo keluar ya nanti antre dari awal lagi. Lelah amat. Akhirnya terpaksa kami antre sambil tahan lapar T__T

Apakah urusan antre-mengantre udah selesaai?

Tentu tidaaaak. Ternyata oh ternyata, setelah dapat nametag visitor, untuk bisa maju ke counter kita masih harus ambil nomor antrean lagi. Hiks. Kemarin kami harus antre sekitar 200 nomor antrian. Dan jangan lupa, kami-masih-belum-makan. Di dalam area Kedubes gak ada kantin. Gabisa keluar lagi pula. Lengkap sudah penderitaan hiks Jadi jangan lupa sarapan dulu ya, dan boleh lah bawa cemilan atau minuman daripada kelaperan.

Urusan kami baru kelar jam tiga siang. Antre berjam-jam cuma untuk ngasih berkas gak sampai lima menit. *cry* Begitu kelar langsung ngibrit ke GI beli makan haha

Pengambilan Visa

Terlepas dari antre yang ra-uwis-uwis nya sih, selama dokumennya lengkap, urus visa Jepang itu gampang kok, cuma butuh empat hari kerja sudah bisa diambil. Kemarin kami apply Selasa, dikasih resi untuk pengambilannya dan diminta kembali hari Jumat untuk pengambilan paspor dan visa (kalo diapproved).

Sama seperti waktu apply, pengambilan visa juga dua kali antre. Antrean dipersilahkan masuk gak tentu jam berapa tapi paling cepat mulai jam 1, pokoknya ketika antrean apply visa didalam udah less crowded.  Jangan lupa bawa resi pengambilan, karena kemarin resi gue dipegang Suami yang datang belakangan dan gue gaboleh ambil nomor antrean aja dong sampai resinya dateng hiks.

Begitu dipanggil ke counter *deg-degan* kita tinggal kasihin resinya, terus petugasnya akan balikin paspor kita yang udah tertempel visa. Yeaaaay, approved! Hamdalah.. Kemudian kami bayar masing-masing Rp330.000 tunai. Masa berlaku visa Jepang adalah tiga bulan dengan ijin masa kunjungan 15 hari.

Semoga membantu yaaa buat para pejuang visa Jepang *wink*

Sekian dan terimagaji.

Note:

*Embassy of Japan : Jl. MH Thamrin No.24, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Jepang Bucketlist Trip (4) : Be Careful with what You Wish for..

Jadi seperti yang udah gue sebut ditulisan gue sebelum-sebelumnya, trip ke Jepang kami kemarin dibumbui  dengan love-hate-relationship (naon) karena ketidakjelasan tiket yang kami pegang.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban agen tiket atas keonaran yang mereka buat, kami diberikan tiket untuk terbang ke Singapura lebih dulu buat transit satu malam naik maskapai Garuda Indonesia sebelum akhirnya bisa ke Jepang. Ini blessing in disguise soalnya secara kebetulan juga jadi bisa mencentang bucketlist Suami buat naik Garuda haha kok sedih ya cetek banget bucketlistnya wkwk. Yap, soalnya backpacker kayak kami mah eman-eman banget beli tiket Garuda kecuali dalam rangka pekerjaan yang mana nantinya uitnya akan di reimburse sama kantor haha

Begitu mendarat di Singapura, Suami cerita kalo tadi di pesawat dia sempet googling dulu “dimana letak headset di pesawat Garuda Indonesia”, yang berhasil bikin gue ngikik-ngikik geli terus dengan asbun nya bilang… “udah kecentang lah ya ini bucketlist naik Garudanya, gratis pula, habis ini kudu kita tingkatin lagi nih bucketlist nya jadi ‘naik pesawat di kelas bisnis’ haha”. Geleng-geleng lah sang Suami atas celetukan Istrinyah~

Long story short, setelah liburan happyhappy foya-foya selama 8 hari di Jepang, terjadilah insiden luntang-lantung di Shinjuku yang menguras hati,¬† gagal boarding dan terlantar di Bandara, tiket php, sampai berpikir mau mengikhlaskan belasan juta tabungan demi bisa pulang, akhirnya dua hari kemudian agen tiket yang onar tersebut ngasih juga tiket yang valid ke kami yang ternyata salah satu tiketnya…. di upgrade ke bussines class! *zoom in-zoom out*

Gue langsung mengingat ke-asbun-an diri sendiri di awal liburan kemarin. Gatau harus senang atau prihatin. Senang karena… ya di-upgrade gratis masa ga seneng, kapan lagi coba. Prihatin karena… mengingat ketidakjelasan tiga hari kemarin, sakit hati meeen, terus mereka main upgrade aja, kan mau kesel jadi nanggung gitu lho.

Jadi tiket yang di upgrade cuma satu, punya Suami, sedangkan tiket istri tetap di ekonomi *kesal* *iri* Tapi berhubung kami memiliki jiwa susah-senang ditanggung bersama *paansi* jadi deh dibagi, penerbangan NRT-HK dia di bisnis, sedangkan penerbangan HK-CGK gue yang di bisnis. Untungnya dibolehin tuker sama crewnya.

Gimana rasanya di bussiness class Cathay? wkwk Sebelum boarding, Suami briefing gue dulu biar ga keliatan norak-norak banget. Headsetnya ada dimana, gimana naik-turunin seatnya, dll. Kok dia tau? Iya, soalnya googling dulu pas sebelum dia boarding haha Selanjutnya ya sama aja sih. Enaknya paling karena selain space nya lega, seatnya bisa direbahin sampe jadi bed gitu, pas banget karena gue kemarin flight malam. Meal on board nya juga lebih fancy, ada makanan pembuka-main course-makanan penutup. Di business class isinya orang-orang necis semua, aku mah apalah dengan muka bengep kurang tidur, mungkin mereka mikirnya “ini anak siapa sih bisa-bisanya naik bisnis..” wkwk

Intinya sih be careful with what you wish for.. Hati-hati, neng, kalo ngomong. Kalo malaikat lewat terus dicatat omongan kita gimanaa huhu Dan mungkin kita merasa kalo sesuatu itu sebuah ujian, padahal bisa jadi sesuatu itu adalah jembatan buat semesta mengabulkan keinginan kita. *sotoy*

Udah gitu aja.

Cheers,

keep making bucketlist and keep be careful with what we wish for…

Notes:

*asbun = asal bunyi = bicara tanpa dipikir

**php = pemberi harapan palsu

Jepang Bucketlist Trip (3) : Playing Snow

Masih dalam rangka mencentang bucketlist sebanyak-banyaknya selama trip kemarin, akhirnya satu mission lagi berhasil dilakuin, yaitu…. main saljuuu~

Jadi walaupun udah April dan udah masuk musim semi, di Jepang masih ada snow resort yang buka, contohnya Gala Yuzawa yang kemarin kita datengin masih akan buka sampai awal Mei.

Hari berikutnya setelah sampai Tokyo, destinasi pertama kita langsung ke Gala Yuzawa Snow Resort. Dimulai dari Stasiun Tokyo naik shinkansen ke Stasiun Echigoyuzawa sekitar satu setengah jam kemudian lanjut naik shinkansen lagi ke Stasiun Gala Yuzawa. Dengan Tokyo Wide Pass yang kita beli seharga 10.000 yen kita dapet free pass naik shinkansen pp ke Gala Yuzawa. Lumayan banget karena tiket transport nya bisa belasan ribu yen kalau tanpa pass.

Excited sekaliii karena ini shinkansen pertama kita berdua haha Kesan waktu naik shinkansen? Biasa aja ternyata *sombong* Pas kita di dalam keretanya gak berasa apa-apa, sama aja kaya kereta biasa cuma pemandangannya lebih cepet ganti haha Mungkin karena kita naik shinkansen nya tipe yang paling lambat kali ya. Masih penasaran sih gimana rasanya naik tipe tercepatnya, mana tau ada bedanya kan. Someday yaa..

image

Begitu sampai di Stasiun Echigoyuzawa langsung berasa dingiiin banget padahal masih sepuluh derajat dan udah pake sweater sama jaket *cupu* Sepanjang kereta menuju Gala Yuzawa Station amazed sekali sama pemandangan salju diatas bukit-bukitnya.

Sampai di Gala Yuzawa Station, kita beli tiket snow resort nya seharga 2.000 yen aja dengan promo Tokyo Wide Pass untuk naik-turun dengan gondola plus sewa sepatu boots dan sled. Jadi pilihannya disana kita bisa main ski, snowboarding, atau mainan seluncuran salju. Kita pilih main sled aja soalnya sewa peralatan ski atau snowboarding cukup mahal sampai belasan ribu yen alias lebih dari sejuta rupiah.

Pemandangan dari atas gondola kereen menurut gue yang pertama kalinya ngeliat hamparan salju haha Tapi separuh ngeri juga soalnya berjurang-jurang gitu kaya *dan emang* di gunung.

Sampai di snow resort, kita sewa loker buat simpan barang bawaan kita berdua. Sebelum main, kita makan dulu karena udah laper beraaat. Di Gala Yuzawa ada food court nya  cuma variasi menunya sedikit dan ga ada tanda-tanda makanan halal, mahal pun harganya diatas 1000 yen per porsi. Kita udah prediksi sih, makanya kita siap-siap bawa pop mie dan termos air panasnya sekaligus. Niat banget ya haha Makan popmie pas udara dingin emang paling ntaps soul~

For the first time in forever pegang salju kita norak sekali haha Mau bikin olaf ternyata susah ya~ Terus kita main sledding di track seluncuran dan sukses ketagihan. Bahagia bangeet kaya bocah. Ga terasa sampai tiga jam kita main diakhiri dengan main snow tubing -seluncuran salju tapi pake ban- yang lebih seru tapi rada serem juga haha

Rekomendasi banget nih buat ke Jepang bisa pilih Maret-April ya supaya bisa Sakura-an sekaligus main salju juga, dan bahkan temen kita yang dateng kesana beberapa hari setelah kita pas banget lagi turun salju di Gala Yuzawa. Envy. Next time semoga ada rezeki lagi buat ke suatu tempat biar bisa ngerasain turun salju yaa. *bucketlist cetek* Aamiin

image

 

“promise me it won’t be the last snow for us…” -she said to him at the end of the day.

 

 

Sehari di Tottori

Haaah? Apa itu Tottori? Dimana dan ada apa disana?
Mungkin sebagian besar orang ga familiar yah sama destinasi ini, termasuk gue. Yup, kali ini sih giliran mencentang bucketlistnya Pak Suami: Aoyama Gosho Manga Museum. Aoyama Gosho adalah Mangaka terkenal Jepang dengan karyanya Detective Conan, kesukaannya Pak Suami. Dari awal tau Tottori doi kekeuh banget pengen kesana, padahal transport kesana lumayan mahal, padahal kan mendingan ke Nara atau keliling Osaka aja yah *dikeplak* Tapi berhubung cinta *tsah* dan Pak Suami juga udah berlapang dada diajak ke USJ jadi hayulaah kita ke Tottori, bang~

Perjalanan ke Tottori dari Osaka naik JR bus memakan waktu 3.5 jam sampai ke Tottori Station. Sedangkan untuk sampe ke Aoyama Gosho Manga Museum di Yura, butuh sejam lagi dari Tottori. Makanya perlu cermat banget nih hitung-hitungan waktunya kalo mau pp dalam sehari, apalagi jam 11 malemnya kita udah pesen tiket juga dari Osaka ke Tokyo.
Jam setengah tujuh pagi kita udah standby di OCAT Osaka, dan berangkat tepat jam tujuh. Empat jam kemudian baru deh kita sampai di kota nya Aoyama Gosho, Yura. Letaknya jauuuuh banget kalo di peta, berbatasan langsung sama Laut Jepang. Jadi Yura ini emang udah dinobatkan jadi Conan City gitu. Di Yura Station aja nuansa nya udah Conan banget. Sepanjang jalan menuju museum sekitar 3 km bertebaran Conan dimana-mana. Ada patungnya. Ada plakat di sepanjang jalanannya. Disitu Pak Suami telaten banget motoin setiap objeknya, dan gue jadi istri siaga jadi fotografer doi setiap ada Conan dijalanan. Gemas bangeeet, boys will always be boys, they said.

image

Museum Aoyama Goshonya sendiri seruuu menurut gue. Bukan typical museum yang boring gitu. Disana terpajang mulai dari sejarah hidupnya Aoyama Gosho, sampai sketsa karya-karyanya. Banyak yang bisa dilakuin misalnya ada kuis trivia tentang Conan, ngumpulin stempel Conan, nyobain dasi kupu-kupu perubah suaranya Conan, ada simulasi skateboardnya Conan, tebak gambar, sampe simulasi buat nunjukkin kalo trik-trik di Conan beneran bisa terbukti lho. Bahkan tiket masuknya aja unik~ Keren pokoknya. Oya, tiketnya 700 yen per orang yaa.

Gamau kalah sama istri, kali ini Pak Suami juga mau belanja souvenir dong haha Akhirnya doi berhasil bawa pulang tumblr Conan, stamp Conan sama postcard. Girang banget dia hari itu, jadi ikut syenanggg ^^

Jalan-jalan kita di Conan city hari itu ditutup dengan…. Conan Gelato! yeaaay. Thanks Conan for making me and my husband’s day great :))

Jepang : Akomodasi & Aplikasi Review

Lagi gabut dan pengen nulis, tapi malas ngelanjutin cerita perjalanan, dan tetiba pengen nulis review akomodasi kita selama di Jepang yang Alhamdulillahnya sih kita berdua cukup puas sama bookingan sotoy gue yang awalnya cuma untuk keperluan visa tapi akhirnya malas cari lagi haha

Tokyo Wide Pass

Tokyo Wide Pass ini seharga 10.000 yen yang berlaku untuk 3 hari berturut-turut. Jadi itinerary trip kami adalah keliling Tokyo (of course!), ke Gala Yuzawa, ke Kawaguchiko Lake, baru selanjutnya ke Kyoto, Osaka, Tottori, dan kembali lagi ke Tokyo. Jadi TWP ini pas sekali buat trip kami. Keuntungan dari TWP ini adalah kami gaperlu bayar lagi untuk naik kereta JR buat keliling Tokyo dan sekitarnya, ke Gala Yuzawa pp yang mana cuma bisa dijangkau dengan Shinkansen dan harga tiketnya belasan ribu yen, dan naik kereta sampai Stasiun Kawaguchiko.

TWP juga bisa dipake buat naik Narita Express (NEX) dari Bandara Narita ke Tokyo, maupun dari Bandara Haneda ke Tokyo. Tapi karena ke-gak profesionalan agen tiket jadi satu hari TWP kita terbuang percuma soalnya sampe Haneda udah malam dan counter TWP nya udah tutup ūüė¶ Jadinya besok paginya kami beli TWP di Stasiun Tokyo, padahal lusanya kami udah ke Kyoto. Sayang banget kan cuma terpakai 2 hari ūüė¶

Info tentang TWP bisa dicari disini.

Willer Bus Tokyo-Kyoto

Sebenarnya ada alternatif lain yaitu beli JR Pass, dimana kita bisa naik kereta ke area Kansai tanpa bayar lagi, lebih cepet pula. Tapi harga JR Pass cukup mahal, lebih dari tiga juta rupiah. Selain itu lebih cepet juga ga selalu lebih baik, soalnya kalo naik kereta cepat kami jadi harus booking penginapan dua malam lagi yang berarti cost jadi nambah. Akhirnya kami putuskan buat naik bus malam aja ke Tokyo-Kyoto dan Osaka-Tokyo.

Untuk ke Kyoto, kami booking online Willerbus disini , dan cuma bisa dibeli online memang. Harganya variatif sekali tergantung rute dan fasilitas busnya. Bus malam lebih mahal daripada bus siang. Kami waktu itu dapet yang lumayan murah 5900 yen. Fasilitasnya lumayan, space buat kaki kita cukup lega. Selain itu ada colokan listriknya yang berguna banget buat traveller kaya kita. Nyaman banget lah Willerbus ini.

JR Bus Tottori-Osaka, Osaka-Tokyo

Untuk rute Osaka-Tottori kita naik JR Bus yang dibeli sehari sebelumnya. Osaka-Tottori jauh ternyata, jadi kudu cermat nih pilih waktu pergi-pulang nya kalo mau pp dalam satu hari. Harga bus nya sekitar 4000 yen, fasilitasnya standar sih, kursi 2-1 dengan space kaki yang cukup lega. Sayangnya gak ada colokan listrik.

Untuk rute Osaka ke Tokyo ini kita nunda-nunda banget nih beli tiket busnya, bahkan akhirnya kelupaan dan baru inget pas sampe Jepang. Akhirnya sewaktu di OCAT Osaka untuk beli tiket bus ke Tottori kita pesan sekalian tiket bus Osaka-Tokyo.

Dengan harga 7000 yen, menurut gue standar banget fasilitasnya. Space untuk kaki juga agak sempit, tapi ada wifi dan colokan listrik. Bangkunya kaya bus ekonomi gitu. Gue prefer Willerbus dibanding JR Bus ini dari segi harga berbanding fasilitasnya.

Kyoto Bus Pass

Kyoto Bus Pass ini seharga 500 yen per hari per orang. Dengan pass ini kita bebas naik bus di Kyoto sepuasnya. Bandingkan dengan pake tiket biasa yang 230 yen sekali jalan. Dibanding subway, naik bus di Kyoto lebih worthed karena bisa ngejangkau tempat-tempat wisata. Tapi sebenernya tempat-tempat wisata di Kyoto bisa banget ditempuh jalan kaki. Kayanya dalam sehari aja kemarin kami cuma naik bis tiga kali, sisanya jalan kaki.

Asakusa Hotel Wasou

Daerah Asakusa jadi area favorit buat kita berdua. Gak terlalu ramai kaya di Shinjuku atau Shibuya, tapi semuanya ada, mulai dari tempat wisata, tempat makan, sampe pasar dan Don Quijote buat beli oleh-oleh juga ada lengkaaap.

Disini kami total nginap selama 4 malam di Asakusa Hotel Wasou, hasil booking sotoy di Booking.com. Rate nya beda-beda yang kita dapat tiap malam untuk jenis kamar yang sama, mulai 5160 yen sampai 8800 yen. Kamar kami bergaya Ryokan gitu dengan kamar mandi dalam plus bathub. Tempat tidurnya 2 futon, ada selimut, TV, free wifi dan free berendem di Onsen juga tapi female only. Nyaman banget disini, ada lift nya juga jadi ga repot bagi yang bawa koper segede gambreng kaya kita.

Selain tipe private room, ada juga dormitory khusus perempuan dengan kamar mandi bersama. Minusnya, kamar mandinya berbentuk Osen ala Jepang yang berendem rame-rame gitu, kalo buat yang risihan kayanya gak nyaman deh.

Aksesnya lumayan gampang dari Asakusa Station tinggal jalan kaki ke arah Kaminarimon melewati Sensoji Temple sekitar 15 menit kalo jalan-jalan manja sambil motoin sakura gitu yah~ (soalnya kita gitu haha) Oya dari sini bisa keliatan Tokyo Skytree lhooo. Hits ya..

Guest House Kyoto Inn

Penginapan Kyoto kita ga banyak pilihan karena banyak yang full booked. Untung nemu dengan harga yang masih terjangkau. Awalnya kita pesan kamar dormitory, tapi setelah email-emailan, Essam, pengelolanya nawarin kita buat di private room aja berdua dengan rate 11960 yen dua malam untuk berdua.

Penginapan Guest House Kyoto Inn ini ga besar, cuma 3 lantai untuk kamar-kamar yang kebanyakan dormitory. Awal masuk kamar, kami kaget kok ada barang-barang orang. Ternyata kamar kita adalah kamar manajernya yang datang kesitu sesekali aja. Kamarnya ada AC, dua tempat tidur dan cukup luas, free wifi. Kamar mandi diluar bareng-bareng dan ada ruang tengahnya. Asik kayanya untuk rombongan gitu kalo ngetrip bareng temen.

Aksesnya gampang, satu kali bis 205 dari Stasiun Kyoto sampe Umekojikoen-Mae atau Umekoji Park, trus jalan dikit deh, pokonya penginapan ini terang-benderang karena pake tumblr lights gitu. Oya, jangan lupa pencet Stop ya soalnya kita dua kali naik bis selalu kelewatan karena Pak Supirnya bablas aja ga berhenti di bus stop nya itu karena sepi :”

Business Hotel Taiyo

Business Hotel Taiyo ini didapet dari hasil baca blog orang, banyak banget orang Indonesia yang nginep sini kemarin itu. Agak jauh kalo dari Osaka Umeda tapi deket sekali dari Stasiun Namba tinggal jalan sedikit, strategis pula deket sama pusat keramaian dan Don Quijote (toserba di Jepang gitu). Rate nya kita dapat murah  cuma 4000 yen berdua satu malam. Kamarnya ada TV dengan dua tempat tidur dan AC. Dibawah juga bisa numpang masak jadi bisa ngirit juga. Minusnya paling cuma karena kamar mandinya cuma ada di lantai 1, 2, dan 3 padahal kamar kita aja di lantai 8. Untung kami harus checkout pagi-pagi banget jadi belum ada yang mandi, kalo agak siang bisa jadi antre kali yah mau mandi doang?

Marroad International Hotel Narita

‘Thanks’ to agen tiket ngeselin itu kita jadi nambah satu malam gajelas lagi di Jepang. Untung admin nya yang lain inisiatif booking penginapan untuk kami. Hamdalah.

Marroad Hotel ini deket banget sama Bandara dan ada free Shuttle bus nya dari dan ke Bandara. Ratenya sekitar satu juta-an rupiah, cukup murah karena hotelnya besar, 800 kamar ala hotel jadul gitu. Kamarnya juga luas, tempat tidur queen size dengan TV, kamar mandi bathub dan free wifi. Tapi harga sarapannya mahal banget qu tak shanggup~

Hyperdia.com

Ini website sih, ada aplikasinya juga cuma gabisa download di Indonesia hiks. Intinya ini guna buat cari transport selama di Jepang, mulai dari rute, jam, sampai harganya.  Penting bgt ini. Cuma entah kenapa selama nyusun itinerary kok gue ga mudeng-mudeng yah baca hyperdia huhu

Google Maps

Untung ada Gmaps! Gara-gara ga paham cara make hyperdia, jadi selama di Jepang kami pake Google maps aja dan berguna-pake-bangeeet. Tinggal search rute nya dari mana mau kemana, lansung deh muncul pilihan transportasinya berikut jam berangkat yang bisa dipilih juga. Mau jalan kaki juga tinggal ikutin aja. Gue aja yg buta arah akut bisa bacanya haha

Google translate

Download aplikasinya deh~ Secara Jepang kan tulisannya kanji jadi kita mana bisa baca ya kan. Di Gtranslate ini kita bisa tinggal scan aja tulisan Jepangnya nanti otomatis nerjemahin. Bahkan bisa juga tinggal foto aja tulisannya, dia bisa terjemahin juga. Ntapsss. Sebenernya kalo untuk penunjuk jalan atau di alat transportasi sih di Jepang pasti ada translate Inggrisnya kok, cuma buat kami berguna banget nih buat baca ingredients di makanan buat menghindari makanan yang haram dimakan. Namanya juga ihktiar yah..

Odigo.jp

Salah satu part dari perjalanan adalah bikin itinerary. List tempat-tempat yang mau dikunjungin udah ditangan, nah bagian yang awalnya bikin migrain adalah gimana cara nentuin urutan tempat wisatanya biar rutenya efisien? Gimana gue bisa tau kalo taman A sedaerah sama kuil B atau deketnya sama stasiun X misalnya? Untungnya nemu web Odigo ini. Jadi kita bisa bikin our own itinerary, nanti dia ada Maps nya jadi langsung keliatan dan gampang buat nentuin misalnya abis ke kuil A enaknya ke taman Z karena deketan. Begitulah~ Kalo udah beres, bisa kita download dan print sendiri jadi booklet kecil gitu sebagai panduan jalan-jalan disana.

Accuweather

I’ve never got an urge to check weather forecast before. Tapi selama di Jepang kemarin penting banget ternyata untuk cek ramalan cuaca berhubung di musim semi sering turun hujan. Kesaktian Accuweather pertama gue rasakan sewaktu hari kedua dan ketiga di Tokyo, dimana sebenernya itinerary kami adalah ngeliat Gunung Fuji dulu baru besoknya ke Gala Yuzawa. Tapi ternyata… Accuweather menunjukkan kalo hari kedua bakal berawan bahkan hujan seharian sedangkan di hari ketiga bakal cerah ceria, jadilah kami sepakat buat menukar keduanya, Gala Yuzawa dulu baru besoknya liat Gunung Fuji. Salah satu keputusan tercerdas seumur hidup karena beneran dong hari kedua didominasi hujan, yang mana ga masalah untuk sekedar main salju, dan hari ketiga cerah banget jadi kita bisa memandang Fuji sepuasnyaa *cheers*

Kesaktian Accuweather yang berikutnya gue rasakan adalah pas di Kyoto. Hari pertama di Kyoto hujaaan seharian, dan angin yang lumayan kenceng bikin payung yang gue bawa rusak. Akhirnya gue beli payung transparan supaya kekinian dan dalam sehari rusak juga *cry* Pagi kedua di Kyoto, sebenernya langit mendung. Kemudian gue galau mau bawa payung apa nggak, malas bawa berhubung si payung baru bukan payung lipat, hampir rusak pula. Tapi mendung. Tapi malas bawa. Tapi kalo hujan masa jajan payung lagi huft *dilema kehidupan* Akhirnya setelah diyakinkan kalo di Accuweather ga akan hujan, jadilah gue ga bawa tu payung daaaan… beneran ga hujan, Padahal mendung juga hampir seharian. Yeaaay..

Intinya, penting sekali untuk cek ramalan cuaca tiap hari dan mengimani percaya-percaya ajadeh ya~

XL Pass

Jadi untuk urusan internetan di Jepang kita bisa sewa pocket wifi dari Jakarta ataupun pake yang lagi hits sekarang, XL Pass. Awalnya kita pilih sewa wifi aja soalnya takut XL Pass ga lancar disana. Tapi bulan April emang lagi peak season dan pocket wifi di tanggal kita pergi sold out, ada pun yang paketnya mahal. Akhirnya kita pake XL Pass selama di Jepang, isi paket XL Combo seratus ribu plus XL Pass nya seharga 350 ribu untuk tiga puluh hari. Untung kita pake XL Pass karena ada insiden yang mengharuskan kita belok Singapore dulu, jadi selama di Spore dan Hongkong (transit) pun kita masih bisa internetan, bandingkan dengan sewa wifi yang cuma bisa dipake di Jepang doang.

Sepengalaman kita XL Pass lancar jaya di Tokyo, Kyoto dan Osaka, tapi waktu di Tottori susah sinyal. Wajar soalnya kotanya memang jauh banget dan bukan kota besar. Intinya kalo untuk itinerary ke kota besar aja XL Pass bisa diandalkan.

Kira-kira demikian. Semoga bermanfaat. Assalamualaikum

*paansi