Body Care Selama Hamil

Awalnya gue gak terlalu concern sama produk perawatan tubuh selama hamil, gue masih pakai produk yang sama kaya sebelum hamil untuk sabun, shampoo, dll. Tapi kemudian pas gue ulangtahun, Alhamdulillah dapet kado dari temen-temen seruangan seperangkat body care (yang klaimnya) natural dan (informasinya sih) aman buat ibu hamil yeaaay! Makasih gaesss…

Mulai dari situ, gue jadi tergerak buat sekalian cari tau dan hijrah ke produk-produk lain yang sekiranya aman buat dipakai Bumil.

Dislaimer : Hasil pemakaian setiap produk tergantung kondisi masing-masing. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang bahan-bahan setiap produk untuk memastikan keamanannya buat Bumil.

Organic Care: Fig & Papaya Nourishing Body Wash

12808410_65ab177d-fc6c-4908-936a-a240d905c48b
Source : google

Claims : Free from SLS, ALS, petrochemical cleansers and parabens

Bisa dibeli di ig : @bumil_store

Produk ini adalah body wash alias sabun mandi. Gue dapet dari kado, botolnya besar berisi 725 ml dan udah empat bulan belom abis padahal dipakai tiap hari :”

Gue suka sekali sama wanginya. Typical sabun mandi natural, produk ini gak bikin kulit terasa kesat kaya pake produk sabun biasa, jadi terasa tetap lembab. Kelemahannya jadi boros air karena kok rasanya kulit masih terasa licin terus haha

OGX Shampoo : Hydrating+, Tea Tree Mint Shampoo

index
Source : google

Claims : Free of sulfates and parabens. (Better check their website for further info)

Bisa dibeli di Ig : @bumil_store

Shampoo OGX ini enak banget dipakai, terasa sensasi mintnya dan shampo ini gak mengeluarkan banyak busa. Pak Suami yang gampang ketombean juga cocok pakai ini. . So far ini awet banget juga gak abis-abis :”

Petal Fresh Botanicals : Olive Oil and Shea Body Lotion

PFB_olive-shea-butter-body-lotion_20-2
Source : google

Claim : Certified organics ingredients.

Bisa dibeli di Ig : @bumil_store

Lotion ini dapet dari kado juga dan sejujurnya belom pernah gue pake haha Emang dasarnya gak rajin pake lotion sih jadi gue gabisa kasih review :” Mungkin bisa juga dipakai buat melembabkan kulit dan cegah stretchmark ya, berhubung ada kandungan olive oil didalamnya.

Crystal Essence Mineral Deodorant Roll On : Lavender

81oKDT8JWfL._SX355_
Source : google

Claims : No Aluminium Chlorohydrate, paraben free, hypoallergenic. Prevent body odor for 24hr.

Bisa dibeli di : Tokopedia

Sebagai orang yang gampang banget banjir keringat, gue harus banget pake deodoran setiap hari. Sayangnya, banyak informasi yang bilang kalo beberapa kandungan dalam deodoran gak baik buat Bumil 😦 Setelah beberapa bulan bertahan pake deodoran biasa, gue kemudian menemukan deodoran ini yang kabarnya bagus dan bahan-bahannya aman.

Varian yang gue beli adalah lavender dan white tea dan gue seneng banget sama wanginya. Deodoran ini juga cepet kering setelah dipakai dan gak ninggalin noda putih di baju. Untuk ketahanannya gak sampe 24 jam, tapi cukup banget untuk gue yang sehari-hari lebih banyak beraktifitas dalam ruangan.

Himalaya Herbals : Gentle Exfoliating Daily Facewash

gentle-exfoliating-daily-face-wash-l
Source : google

Claim : Soap free. (Better check their website for further info)

Gue tertarik beli merk Himalaya karena ada embel-embel herbal nya dan beberapa sumber bilang kalo ini free parabens. Sebelum hamil, gue pake face wash Himalaya yang varian whitening, tapi berhubung katanya Bumil baiknya menghindari produk whitening, gue pun beralih ke varian yang ini.

Produk ini mengandung butiran scrub jadi biasanya gue pakai sedikit aja supaya kulit wajah ga kering. Produk ini juga harganya terjangkau dan gampang didapat.

Himalaya Lip Balm

Lip-Balm
google

Himalaya lip balm ini kemasannya berbentuk tube dan teksturnya cukup thick jadi berasa banget lagi pake sesuatu di bibir. Efeknya ke bibir gue so-so aja, bahkan gue merasa kadang setelah pakai ini bibir gue malah makin kering 😦

Palmer’s Cocoa Butter for Stretch Mark

IF7LF8110356
Source : google

Bisa dibeli di AEON Mall, BSD.

Stretch mark adalah salah satu masalah kulit yang paling concern dari Bumil. Wajar banget secara berat badan yang bertambah cukup signifikan dalam waktu singkat bikin kulit ikutan meregang dan menimbulkan garis-garis (gak terlalu) cantik di beberapa bagian tubuh, kayak perut, paha, dll. Walaupun katanya stretch mark itu bakat-bakatan atau bisa dari keturunan (gue termasuk yang bakat stretch mark nih huhu), tapi buat mencegahnya penting banget buat ngejaga elastisitas kulit dengan rajin pake lotion atau oil.

Banyak banget rekomendasi produk yang reviewnya berhasil cegah stretch mark di beberapa orang, tapi cocok-cocokan juga ternyata karena produk yang sama bisa gak ngefek juga di orang lain. Opsinya antara lain adalah Bio Oil, Clarins Huile Tonic, sama Palmer’s Cocoa Butter Lotion ini.

Karena Bio Oil dan Clarins Huile Tonic berbentuk minyak yang mana gue gak terlalu suka, harganya pun jadinya mahal karena kemasannya kecil, gue akhirnya memutuskan beli Palmer’s Cocoa Butter Lotion for Stretch Mark aja saat masuk trimester dua kehamilan. Lotion ini memiliki wangi cocoa alias cokelat yang kenceng banget, teksturnya thick tapi cepat meresap jadi gak lengket di kulit.

Awalnya gue gak terlalu rajin pakai lotion ini karena sering lupa nya, tapi masuk bulan kelima kehamilan disaat baby bump mulai kelihatan, kulit perut gue mulai sering terasa gatal (kadang gatal banget malah) pertanda kulitnya mulai meregang, sejak itu gue jadi merasa butuh pakai lotion ini setiap pagi dan sebelum tidur. Lotion ini juga lumayan meredakan gatal-gatal di perut gue karena rasanya lebih lembab setelah pemakaian.

Palmer’s Cocoa Butter Skin Therapy Oil

palmers-cocoa-butter-formula-skin-therapy-oil-rosehip-60ml-p9615-9499_image

Dengan semakin besar baby bump, gue semakin parno sama stretch mark ini. Awalnya mau coba tambah Bio Oil biar double protection (bumil lebay), tapi kemudian hasil googling kesana-kemari ketemulah dengan Palmer’s Skin Therapy Oil ini yang review nya berhasil mencegah stretch mark juga di beberapa orang dan katanya teksturnya lebih enak daripada Bio Oil. Setelah cek di Shopee harganya pun lebih murah (Rp110.000 berisi 60 ml) daripada si Bio Oil, gue akhirnya memantapkan diri untuk pilih ini aja dengan harapan sesama Palmer’s bisa saling bersinergi gitu kan haha

Palmer’s Skin Therapy Oil ini enak banget dipakai, wangi rosehipnya tolerable, tekstur oil nya terasa ringan dan gampang meresap. Biasanya gue pakai di malam hari, sementara Palmer’s lotion nya dipakai saat pagi. Kemasannya menggunakan botol pump dan ukurannya yang mungil praktis banget untuk dibawa traveling dibanding sama botol lotionnya yang gedaaay banget itu. Wish me the best result from both!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Prenatal Yoga @ Nujuh Bulan Studio

prenatal yoga
Mempersiapkan persalinan secara fisik dan mental

Memasuki hamil bulan kelima, Obgyn gue udah mengisyaratkan kalo gue udah dibolehin –bahkan harus– banyak gerak dan olahraga. Jangan nunggu tujuh bulan baru mulai olahraga, keburu eungap katanya. Olahraga yang Beliau saranin kaya berenang, yoga hamil dan banyak jalan kaki.

Pas banget juga badan gue udah menunjukkan tanda-tanda renta huhu Bahkan sewaktu baru bulan ketiga, gue udah mulai sesekali sakit pinggang dan makin intense sampe sekarang, terus bulan keempat kram kaki. Padahal kenaikan berat badan belum seberapa. Jompo banget kan. Maklum dari depan pintu rumah sampe kantor dan sebaliknya tinggal duduk manis di ojek, ditambah lagi di kantor full 8 jam duduk di meja kerja. Alhasil minim banget pergerakan gue dalam sehari.

Berbekal info sana-sini, gue tertarik sama prenatal yoga alias yoga khusus bumil. Sayangnya di area tempat tinggal gue di Jakarta Barat gue belom nemu tempat prenatal yoga terdekat. Salah satu tempat buat prenatal yoga yang sering kedengeran adalah di Nujuh Bulan Studio, Bintaro. Setelah follow instagramnya dan cek program-programnya di website, gue tertarik sekali. Pas banget juga gue sering ke rumah kakak ipar di Bintaro kalo weekend jadi biar kunjungan gue kesana makin berfaedah marilah kita sekalian ikut yoga sajaa…

Pertama kali gue kirim email ke mereka untuk minta informasi lebih detail tentang program, jadwal, dan biayanya. Untuk kelas prenatal yoga adanya di hari Selasa, Kamis, dan Minggu dan boleh diikuti sejak bulan ketiga kehamilan. Sebelum ikut kelas prenatal yoganya, Bumil wajib ikut Introduction Workshop dulu satu hari selama 1,5 jam dengan biaya Rp250.000 plus free goodybag.

Gue langsung daftar untuk Introduction Workshop nya tapi awalnya kelasnya udah full di tanggal yang gue pengen. Sedih banget soalnya di minggu-minggu berikutnya gue bakal ke luar kota, dan kalo ketunda lama lagi mah keburu hamil tua nanti mengingat kehamilan gue udah masuk minggu ke-21 😦 Tapi Alhamdulillah, rezeki Baby sholeh/ah (Aamiin), gak lama kemudian gue dapet email konfirmasi lagi kalo gue bisa dateng di tanggal yang gue mau karena ada 1 orang yang reschedule. Yeaaay, jadi juga kita olahraga, dek… ^^

Nujuh Bulan Studio berada di Ruko Kebayoran Arcade 2, Bintaro Sektor 7, pas banget diseberang ruko nya Bakso Boedjangan kesukaan Pak Suami jadi doi bisa anteng makan sambil nungguin gue yoga haha Studionya homey sekali dengan ruang tunggu yang nyaman buat para Suami.

img-20170902-wa0005.jpeg
Afirmasi positif buat Bumil

Peserta Introduction Workshop ini sekitar lima belas orang dengan usia kehamilan 20 sampai 31 minggu, dipandu oleh Mba Tia Pratignyo yang terdiri dari 45 menit materi dan 60 menit praktek. Selain berguna banget sebagai perkenalan yoga bagi yang gak punya basic yoga kayak gue, banyak banget informasi penting yang disampaikan mengenai kehamilan dan persalinan. Mulai dari pentingnya persiapan mental untuk persalinan mengingat Bumil akan gampang panik dan mental down saat melahirkan, tentang persiapan fisik Bumil yang kudu prima mengingat proses melahirkan bisa berlangsung belasan jam hingga hari-an, dan yang gak kalah berguna adalah dibahas juga keluhan fisik yang biasa dialami ibu hamil beserta  penyebab dan solusinya. Sedangkan sesi prakteknya terdiri dari latihan pernafasan dan gerakan-gerakan dasar prenatal yoga. Saking syahdunya, gak terasa kelas yang harusnya berdurasi 1,5 jam molor jadi 2,5 jam sajaa haha

img-20170902-wa0007.jpeg
Suasana di studio prenatal yoga

Setelah puas banget sama Introduction Workshop ini, gue berencana buat lanjut prenatal yoga disana, walaupun sepertinya gak bisa rutin tiap weekend hiks Selain itu, gue juga tertarik sama program lain seperti Breastfeeding & Newborn Care supaya pas Baby lahir kami gak bengong kudu-diapain-ini-Bayi? sama pengen juga ngajak Pak Suami yoga bareng di kelas Couple Yoga for Birth nya. Til then, kita nabung dulu yaaa :p

Thankyou, Nujuh Bulan Studio.

Website : http://www.nujuhbulan.com

 

 

 

We’re Expecting : Trimester Pertama

daafaae94c49424cf45be6c1a9217de1--were-expecting-halloween-fun

Fisik

Seperti gue tulis di post sebelumnya, pertama kali tahu hamil dan periksa ke Obgyn adalah ketika usia kehamilan gue baru 5 minggu dan baru keliatan kantong kehamilannya aja. Minggu-minggu pertama kehamilan waktu itu lumayan hectic, walaupun Alhamdulillah gak mengalami morning sickness tapi kondisi badan rasanya gak fit ditambah batuk yang sangat ganggu. Belum lagi perut gue selalu keroncongan, dua jam sekali pasti laper level gue-gak-pernah-selaper-ini-sebelumnya. Makanya kemana-mana gue selalu bawa tas ransel yang isinya snack, susu dan buah-buahan haha

Saat itu kebetulan dibarengin juga dengan ujian masuk D4 yang tinggal seminggu lagi. Untuk yang satu ini sih gue udah expect nothing soalnya minim banget persiapan karena sebelumnya fokus sama ngurusin liburan dan kemudian hamil, dimana bikin badan rasanya ga enak dibuat belajar dan ngantuk teruuus haha Ditambah lagi hari pertama ujian gue migrain sewaktu ngerjain soal *tepok jidat* Jadi yah… hasilnya udah bisa diprediksi, gue gagal haha But no worries, coba lagi tahun depan, belajar ditemenin adek Bayi yeeeay :*

Awal kehamilan gue juga bertepatan sama bulan Ramadhan. Setelah konsultasi sama Obgyn, Beliau bilang boleh puasa asal jaga makan dan berat badan harus naik, gak boleh tetap apalagi turun, tapi pada dasarnya Bumil boleh gak puasa. Akhirnya Suami gak mengijinkan gue buat puasa mengingat kehamilan gue masih muda banget dan di bulan pertama dimana gue makan terus aja berat badan gue susah naiknya. Jadilah bulan Ramadhan lalu gue merasa kehilangan banget suasana puasa dan ibadah yang lain pun jadi kurang maksimal rasanya :”

Masuk bulan kedua dan ketiga, entah kenapa nafsu makan gue menghilang. Dari yang sebelumnya laper terus, jadi ga pengen makan sama sekali. Kondisi ini bikin Suami dan gue sendiri pusing, antara khawatir si Baby kurang asupan makanan tapi ga doyan makan. Akhirnya maksain diri untuk makan walaupun sedikit, terutama yang mengandung protein dan buah-buahan. Alhasil berat badan gue selama trimester pertama cuma naik satu kilo 😦 Untungnya pertumbuhan ukuran Baby nya selalu sesuai sama usianya. Alhamdulillah.

Dari Obgyn gue gak ada pantangan makanan, paling cuma hindari daging yang gak terlalu matang aja, tapi gue pernah kok makan sate, steak sama daging barbeque mumpung lagi ditraktir :p Dan gue sebagai pecinta indomie garis keras, Suami udah warning cuma boleh satu bulan sekali setiap abis kontrol Obgyn sebagai reward haha

Semenjak hamil rasanya gue jadi lebih sensitif sama bau-bauan. Pernah suatu hari masak kentang balado yang full bumbu begitu, berhubung kontrakan kami mungil banget jadi baunya ke seluruh rumah, termasuk kamar, yang bikin gue pusing bahkan sampe besok-lusanya juga gue merasa baunya masih nempel dimana-mana. Pak Suami juga jadi kena getahnya, tiap Suami pulang kerja sore gue suka rewel minta doi buruan ganti baju soalnya menurut gue bau matahari haha *bumil lebay*

Moodswing

tumblr_ote91f2SHU1stkkdfo1_400
I’m not on my period but I’m pregnant and that’s pretty much the same XD

 

Sebulan pertama kehamilan, gue masih galau dan sibuk menata hati : calon Ibu cuuuuy, siap gak lo Ndah?, ditambah lagi fisik yang masih adaptasi bikin gue jadi stress :” Untungnya setelah cek Obgyn yang kedua dan ngeliat si calon Bayi yang pertama kalinya bikin semangat muncul lagi, ditambah dukungan dari Suami yang berlimpah-limpah.

Gue juga jadi manja banget sama Suami gak mau ditinggal. Suami pergi kerja aja rasanya sedih banget. Pernah suatu saat dalam seminggu itu Suami sibuk nemenin keluarganya untuk berbagai urusan, ditambah kerjaannya saat itu shift sore jadi waktu untuk ketemu gue sedikit sekali, alhasil gue mewek terus tiap malam dan puncaknya di minggu depannya saat harusnya kerja shift malam, dengan berderai-derai air mata, Suami gak gue bolehin pergi kerja. Akhirnya doi ngalah dan ijin ga masuk malam itu haha*segitunya buuuk*

Selain itu, moodswing juga jadi pe-er banget selama hamil. Ibu hamil kan katanya harus jaga sikap, gak boleh gampang marah dan emosian, alhasil pelampiasan yang ‘aman’ cuma nangis -.-‘ Gue jadi gampang banget kesel dan ujung-ujungnya nangis. Ada sesuatu yang gak sreg dan ganjel sedikit terus nangis. Merasa kurang dukungan dan perhatian kanan-kiri jadinya baper dan nangis. Baca, denger cerita, atau nonton yang menyentuh dikit aja nangis. Yap, you read it right, sesering itu guysss…

Alhamdulillah masa-masa adaptasi di trimester pertama udah berhasil dilewati dengan segala suka cita dan airmatanya *halah* Bersyukur sekaliii punya Suami yang bisa diandalkan dan ga capek-capeknya kasih dukungan buat gue dan calon Bayik so we can keep going strong. Gak semua orang bisa memahami dan memaklumi kondisi ibu hamil dengan segala keluhannya, tapi rasanya gak penting lagi ada dukungan orang sekitar atau nggak as long as you have that one person who got your back. Terimakasih Suamiii :)) Semoga kedepannya kami diberikan kesehatan selalu. Aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Is Love At First Sight Does Exist ?

Pertama kali kami cek ke Obgyn adalah seminggu setelah ‘telat’ dan kehamilan baru masuk 5 minggu. Sebenernya dari hasil browsing kami udah tau kalo periksa sekarang belom akan kelihatan janinnya, tapi kami memutuskan buat hayuk lah ke Obgyn aja buat memastikan hamil atau nggak dan sebagainya. Hasil USG menunjukkan Alhamdulilah benar ada kantong kehamilan ukuran 3 mm dan posisinya pun di dalam kandungan, seperti seharusnya. Selanjutnya dari dokter gue dikasih vitamin, dan diminta kontrol satu bulan lagi.

Minggu-minggu awal rasanya beraat banget. Penyesuaian secara fisik maupun mental bagi gue sama sekali gak mudah. Pola makan gue pun mau gak mau harus diubah. The pressure was real. I was too busy adjusting myself with such uncomfortableness within my body -and mind- til’ I forgot to realize the joy that supposed to be there :” Rasanya bersalah sekaliii, liat orang lain mengumumkan kehamilannya di media sosial dengan caption bahagia kayak orang jatuh cinta, sementara gue malah merasa biasa aja, cenderung tertekan malah :(( *pardon this overthinking lady*

Kontrol kedua kami putuskan untuk ganti Obgyn. Rasanya lamaaa sekali nunggu-nunggu jadwal kontrol berikutnya buat liat calon Bayik yang pertama kalinya, sementara pikiran gue dipenuhi sama ketakutan: Apa janinnya berkembang dengan baik? Apa usaha gue sebulan terakhir ini cukup? dan lain-lain. Untungnya, Obgyn kami kali ini ramah bangeet. Begitu masuk ke ruang periksa, gue langsung diminta berbaring untuk USG. Beliau juga antusias sekalii minta Suami untuk standby hp supaya bisa video-in si calon Bayik di layar, dan Alhamdulillah begitu alat USG ditempel di perut terpampang nyata calon Bayik kamii :”” Kemudian diukur panjangnya, baru 3.98 cm, dan diperdengarkan detak jantungnya. Bu Obgynnya sabar sekalii mau nunggu si calon Bayik yang awalnya diem aja kayanya lagi tidur, dan perut gue digoyang-goyang supaya kebangun dan kami bisa liat dia gerak-gerak lucu bangeet dan Suami pun dengan sigap video-in .

Waah… udah ada ya ternyata Bayiknya,” kata Suami dengan senyum sumringah tiada tara haha

Melihat si calon Bayik yang tumbuh dengan baik, gue supeeer lega. Ditambah ngeliat Suami se-excited dan sebahagia itu rasanya terharuu sekaliii dan semangat muncul lagi. :”” I guess this is what people said as love at the first sight :’)

Makasih calon adek Bayik, udah bikin kami bahagia sekalii walaupun kita belom resmi ketemu. Makasih Suamiii, for being the main strength and reason why the Baby and I could keep going strong. I love you both

 

 

 

 

 

 

 

 

Paling Sedih Kalau…

Dalam tiap fase kehidupan *duilee* beda-beda faktor yang bisa bikin kita –gue– sedih. Pas jaman sekolah, paling sedih kalo nilai ulangan jelek. Pas jaman muda, paling sedih kalo putus atau berantem sama pacar. Pas gedean dikit, paling sedih kalo liat saldo ATM di akhir bulan 😦

Nah kalo di fase gue sekarang setelah menikah, yang paling sedih adalah kalau…

Suami sakit :”””

Beda sama gue yang dikit-dikit pilek, flu, alergi dan lain-lain, Suami adalah tipe yang keliatannya selalu sehat-sehat aja, gak bisa diem, tidur bentar tapi udah seger lagi, kalo ada libur maunya jalan-jalan, pokoknya energinyaa ntah gimana gak ada capeknya.

Selama tujuh bulan menikah, baru dua kali Suami sakit yang mana berhasil bikin Istri drama queen nya ini sedih berurai air mata. Ngeliat orang yang biasanya aktif kesana kemari jadi lemas gitu rasanya patah hati 😦

Pertama kali Pak Suami sakit sepertinya karena perubahan jam kerja yang biasanya teratur dari pagi sampe sore jadi kerja shift pagi/sore/malam dan badannya belom beradaptasi, alhasil Suami demam tinggi selama beberapa hari. Sedihnya lagi, Suami gapernah mau ke dokter ataupun minum obat, jadilah cuma bertumpu sama makan, minum air putih yang banyaak dan kompres hangat. Istri yang parnoan akhirnya baru berhasil ngebujuk Suami ke dokter setelah demam 5 hari *kalo typhus atau dbd gimana kaan* Alhamdulillah lusanya udah sembuh lagi.

Dan yang kedua adalah waktu staycation kami di hotel di Bandung beberapa hari lalu. Tengah malam, Suami ngeluh tidurnya gak nyenyak karena dadanya sakit dan mimpinya aneh-aneh :(( Kayanya Suami kecapekan karena emang sebelum cuss ke Bandung doi baru banget selesai pelatihan fisik di Halim selama dua hari full *I wouldn’t stand to imagine anything worse*. Istri manaaa yang gak patah hati 😦 Semua penyakit dan skenario yang enggak-enggak kebayang di kepala, tapi gak bisa berbuat apa-apa juga, cuma bisa berderai-derai airmata, peluk Suami yang lagi tidur sambil doa, diem-diem googling semua nomor IGD di RS terdekat dan tahan ngantuk sampe hampir pagi karena takut ada apa-apa :(( Alhamdulillah paginya doi udah segar bugar lagi ngajak berenang dan lanjut kopdar sama temen-temen SMAnya. Alhamdulillah, yang penting sehat ya sayangg 😊

Setelah menikah rasanya jadi lebih menghargai kesehatan, baik diri sendiri ataupun pasangan. Mau gak mau jadi Istri bawel, berhubung Pak Suami ga kenal capek jadi gue kudu lebih sering ngingetin buat jaga kondisi dan tahan-tahan doi biar gak bablas kecapekan dan malah drop. Sabar-sabar ya Pak Suami, kalo dibawelin Istrinya teruuus. Demi kesehatan, demi bisa sama-sama terus jalan-jalan dan ngedampingin anak-anak sampe tua nanti. Aamiin ❤

image
Sehat teruuus Pak Suamii 🙆🙆🙆

Everything Comes When We Almost Ready

Dalam hidup, rasanya pertanyaan ‘kepo’ orang lain seputar kehidupan tuh gak akan ada habisnya. “Kapan lulus?”, “Udah kerja dimana?”, “Kapan nikah?”, dan yang berikutnya adalah momok buat para newlyweds :Udah isi belum?”

Pertanyaan model begitu udah kami terima bahkan sejak awal menikah. Gue dan Suami bukan tipe yang langsung concern untuk punya anak setelah nikah. Kami udah merencanakan mau jalan-jalan dulu. Makanya kalo ditanya begitu kami tanggapi dengan ketawa-tawa aja, wong kami nya aja santai dan lagi nyiapin liburan kok.

Tapi ditanya pertanyaan yang sama berulang-ulang toh bikin kami –terutama gue– baper juga. Setiap mendekati tanggal menstruasi somehow gue deg-degan, dan kecewa begitu si tamu bulanan datang. Perasaan yang tadinya santai-santai aja mulai berubah jadi khawatir.  Iya ya, kenapa ya kok belum hamil? Apa ada yang salah sama tubuh gue? Sebuah kekhawatiran yang sebenernya belum perlu, mengingat usia pernikahan gue bahkan baru tiga bulan. Bayangin gimana efeknya kalo pertanyaan semacam itu ditujukan ke pasangan yang emang udah lama menunggu momongan cobaaak?

Lama-lama kesabaran gue habis juga, yang biasanya setiap penanya gue tanggapin dengan ketawa akhirnya lama-lama ga santai. “Emangnya tujuan nikah cuma buat ‘beranak’ ya?” reaksi gue suatu kali.  Gue curhat sama Suami tentang betapa gue lelah ditanya hamil melulu, dan ternyata dia pun merasa yang sama haha Cuma dengan bijaknya dia nyuruh gue buat minta doanya aja sama setiap orang yang nanya.

Triiing~ gue seperti dapet pencerahan. Gak guna ya ternyata kesel sendiri cuma karena pertanyaan iseng orang lain, mending minta doa aja. Gue jadi introspeksi diri dan meluruskan niat lagi, bener gak sih kami udah sepengen itu punya anak? udah siapkah? atau cuma karena capek ditanya-tanya orang terus? Kemudian gue memutuskan untuk fokus mensyukuri nikmat Allah yang sudah ada, kebersamaan sama Suami misalnya, dibandingkan pusing mikirin sesuatu yang belum Allah berikan.

Something Good Happens when You Least Expect It

Liburan gue dan Suami bulan April lalu bener-bener refreshing sekaliii. Pulang dari sana hati rasanya seringan kapas hihi Pertanyaan kapan hamil masih sering kami dapat, bahkan ada yang minta oleh-olehnya dedek bayi cobaaa, ngana pikir bisa tinggal pencet dari vending machine apaaa? haha tapi gue gak ambil pusing lagi.

Sebulan setelah balik dari liburan gue menyadari kalo ‘tamu bulanan’ gue telat, padahal biasanya selalu tepat waktu *menurut aplikasi yang gue pake setahun terakhir* tapi masih santai soalnya tanda-tanda menstruasi seperti perut kram masih gue rasakan. Kemudian setelah telat tiga hari baru gue penasaran dan akhirnya beli testpack tanpa sepengetahuan Suami. *terus malah takut sendiri kalo hamil beneran gimanaa*

Besoknya gue diem-diem nyoba tes dengan urin pertama pagi hari, cuma karena grogi takut ketauan gue lupa kalo hasilnya harus ditunggu sekitar tiga menit. Jadi gak sampe satu menit setelah cuma satu garis yang muncul, gue berkesimpulan kalo hasilnya negatif, jadi gue taro testpacknya dan lanjut bersih-bersih cuci muka.  Begitu selesai dan gue mau bungkus dan buang testpacknya lhooo kok jadi ada dua garis cukup jelas 😐 tapi ga yakin dong, soalnya kan katanya kalo ditunggu kelamaan bisa jadi muncul garis kedua palsu.

Karena makin penasaran, begitu Pak Suami berangkat kerja, gue beli 1 testpack lagi. Gak sabar nunggu besok, akhirnya gue baca lagi petunjuknya lebih teliti dan langsung gue coba tes lagi siang itu juga dan hasilnya… setelah nunggu dua menit muncul garis merah kedua samar.

Kok samaaar? Apa artinya iniii? *kekeuh galau*

Niat awalnya gak mau ngasih tau Suami dulu takut php, tapi akhirnya gue tak shanggup galau sendirian hahaha Akhirnya gue memberanikan buat foto dua testpack tadi dan kirim whatsapp Pak Suami yang lagi kerja. Dan dibales dengan…

“itu artinya apaaa?”

*ngakak*

Setelah browsing sana-sini diambil kesimpulan kalo tunggu dulu sampe telat satu minggu supaya hasilnya bisa lebih jelas. Kami berdua beli dua testpack lagi yang lebih mahal haha Seminggu kurang sehari, Pak Suami maksa-maksa buat tes lagi pagi itu supaya kalo emang positif besoknya bisa langsung ke dokter. Yasudalah, nurut. Supaya lebih meyakinkan, gue dan Pak Suami pegang testpack satu-satu dan tes masing-masing haha Alhamdulillah, tes kedua ini hasilnya dua garis merah yang jelas banget. Allahuakbar, dan tentu aja yang paling priceless adalah ketika ngeliat senyum bahagia Pak Suami :”)) *walaupun dalem hatinya pasti galau juga haha*

20170509_184518.jpg
Welcome, geng 😀

 

Dibalik kelegaan dan kebahagiaan, terselip pertanyaan selanjutnya, dan bahkan lebih penting : sudah siapkah saya/kami, menyambut amanah baru menjadi (calon) orangtua?

 

 

Honeymoon Trip : Ubud Villa

Disela-sela keriweuhan persiapan nikahan, satu hal yang kami lakuin buat penyemangat adalah ngerencanain honeymoon trip hihi emang dasar anaknya demen jalan. Pokoknya Suami kali ini mau trip yang nyantai aja gak banyak agenda jalan sana-sini, dan gamau panas-panasan.

Dengan pertimbangan budget, awalnya pengen honeymoon yang deket aja, ke Bandung misalnya. Etapiii kemudian Suami mikir kok sayang ya kalo honeymoon gak ke Bali haha Akhirnya yaudalah kami sepakat Bali sebagai tujuan, tepatnya di Ubud. Dasar kami mah anaknya banyak mau : sayang ya kalo gak di private villa, sayang ya kalo ga sekalian aja ambil paket honeymoon, kapan lagi coba, endesbre-endesbre sebagai pembenaran :”” *nangis liat saldo* Akhirnya jiwa mamak-mamak gue pun keluar dan mulai gerilya cari private villa dengan best price.

Long story short, setelah info sana-sini gue menemukan satu villa yang konsep dan suasananya enak di Ubud, yaitu Gino Feruci Villa. Setelah kepo ig dan websitenya, gue menghubungi marketingnya langsung untuk nanya harga dan availability nya. Gue cukup surprised ketika dikasih tau harganya karena termasuk murah dibanding private villa lain dengan fasilitas yang hampir sama, dan pesen langsung kaya gini jauh lebih murah daripada booking via agen di instagram. *tumben pinter Ndah*

Sayangnya, villa yang kita mau gak available di tanggal yang kita pengen, akhirnya kami bela-belain nginep dulu di hotel lain di Kuta selama 2 malam sebelum kemudian nginep disana.

Dari Kuta kami naik grabcar (asli susah banget pesen grabcar di Bali) menuju Ubud. Tiba disana kami disambut konsep villa yang alami. Paket honeymoon disana termasuk honeymoon decoration, cake, flower arrangement, buah-buahan, breakfast, cande light dinner, 1 jam couple massage, sama free shuttle ke pusatnya Ubud. Really worthed the price.

20161207_155015.jpg
Suasana Gino Feruci Ubud

Setelah kelar urusan check-in, kami dianter deh ke villanya. Villanya terdiri dari satu kamar yang luas, kolam renang, dapur semi-outdoor, kamar mandi plus bath tub. Bisa ditebak yah dekor ala-ala honeymoon, mawar bertebaran di kasur, di bath tub juga, handuk dibentuk angsa. Yang unik konsep kamar mandinya nih, bath tub dan wastafel diluar kamar, shower nya malah outdoor banget ga ada atap dan dindingnya haha Bener-bener kembali ke alam. Cocoknya emang buat honeymoon sih ini, kalo sama temen mah tengsin ya.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk couple massagenya kita yang tentuin sendiri kapan waktunya, kami pilih hari kedua nya. Emang gue anaknya hobi banget dipijit, enak banget sampe tidur, berhubung prosesi nikahan emang menguras tenaga banget dan langsung dilanjut honeymoon. Cuma paling risih aja Suami gue dipijit mbak-mbak haha *istri posesip*

Malam terakhir disana waktunya candle-light dinner. Pagi harinya kami diminta pilih menu, ada western sama Indonesia, dengan pilihan dari mulai appetizer sampe dessert. Awalnya dinner mau disiapin di villa, disamping kolam renang biar syahdu ya kan, tapi apa daya dari sore Ubud diguyur hujan ra uwis-uwis jadi terpaksa dinner nya disiapin di ruang makan hotel. Eitsss, drama belum kelaar.

Sore hari menjelang candle-light dinner yang katanya romantis dan gue seharusnya tampil cantik, alergi gue malah kumat, ntah debu darimana atau kecapean atau apalah yang jadi penyebab, mata gue mulai bentol-bentol yang seperti biasa merambah jadi bengkak sekeliling mata. Yassalam… mau candle-light dinner pas honeymoon dan mata gue malah kaya abis ditonjokkin tuh agak sedih ya 😦 Ditambah lagi pas maghrib mati lampu aja dong. Nice.

Setelah dikabarin kalo dinner nya udah siap, kami ke lobby dan voilaaa… udah ada sebuah meja dengan lilin remang-remang, dan dekorasi taburan mawar love-love lucu sekaliii. Setelah kita duduk, makanan diantar satu-persatu. Ternyata makanannya banyak amaat, porsinya gede pula, ditambah cake, gimana cara ngabisinnyaa kan cuma berdua. Sebelum makan marilah kami foto-foto dulu. Sayang banget mata gue pake bengkak segalaaa, alhasil jadi gagal cantik dah di semua foto. *cry* Kami puas sih sama candle-light dinner disini, cuma porsinya aja banyak banget kaya prasmanan, sayang jadi gak abis :”

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya selesai juga waktu menginap kami di Ubud ini. Overall, pelayanannya memuaskan, suasananya juga pas seperti yang kami inginkan. Bisa sewa motor juga untuk yang mau keliling Ubud sendiri. Cuma berhubung konsepnya alami, selain banyak pohon ya ada juga serangga wara-wiri dan suara jangkrik, tapi buat kami sih ga masalah. Recommended lah. Thankyou, Ginno Feruci, Ubud. :))

 

 

A New Chapter Has Begun… : Vendors (3)

Mahar dan Seserahan

Acara lamaran kami gak pake acara tukar cincin, jadi pemasangan cincin dilangsungkan pas akad nikah. Setelah lamaran kami mulai berburu cincin kawin dimulai dengan browsing di internet, mayoritas merujuk ke Toko Kaliem di Blok M dan Cikini Gold Centre.  Berhubung banyak yang bilang kalo harga di Toko Kaliem lebih mahal, akhirnya dipilih untuk cari cincin di Cikini Gold Centre (CGC).

Kami sampai di CGC hari Minggu sekitar jam 10 pagi dengan tujuan Toko Suki dan Toko Kenanga, tapi ternyata Toko Sukinya tutup hari Minggu 😦 Jadi kami muter-muter CGC dulu untuk liat-liat. Toko Suki jauh lebih besar dari Toko Kenanga jadi kayanya lebih banyak pilihan, tapi berhubung kami berdua males balik lagi akhirnya pilih-pilih model cincin yang ada di Toko Kenanga aja.

Berhubung jari gue dan calon Suami tergolong kurus-kurus, pilih cincin kawin ini agak tricky juga supaya dapet cincin yang kelihatan manis waktu dipakai. Walau pilihan modelnya gak banyak akhirnya dapet juga cincin yang kami suka. Cincin yang kami pilih emas putih 3 gram dan untuk calon Suami palladium 4 gram. Alhamdulillah karena jari mungil jadi hemat haha

img_4323_resize.jpg
Jari mungil pangkal hemat

Kurang dari sebulan sebelum hari-H seserahan baru lengkap dibeli (maklum cewe banyak mau tapi pengen hemat, jadi lama pilih-pilihnya haha), jadi kami balik ke CGC untuk cari kotak seserahan dan wadah mahar. Banyak banget pilihan kotak seserahan disana dengan berbagai model dan harga. Pilihannya bisa sewa atau beli. Karena ternyata kotak yang kami mau harganya masih terjangkau dan bisa dipakai lagi buat storage, jadi kami pilih beli aja di Toko Yayang dua set kotak koper nuansa shabby chic bunga-bunga seharga Rp120.000/set yang terdiri dari 4 kotak beda ukuran.

Selain jual kotaknya, mereka juga buka jasa hias seserahan. Supaya ga repot lagi, kami minta dihias sekalian. Ada 2 pilihan, pakai plastik biasa atau pakai mika, beda harganya lumayan jauh. Kami pilih plastik aja karena toh bagus juga kok dengan jasa hias Rp15.000/kotak dengan lama proses satu minggu. Untuk mahar, kami beli wadahnya juga di CGC, di Toko Ibu Sri seharga Rp120.000.

Vendor Cincin : Toko Kenanga, CGC.

Vendor Mahar : Toko Ibu Sri, CGC.

Vendor Hias Seserahan : Toko Yayang, CGC.

This slideshow requires JavaScript.

Buku Tamu

Salah satu perintilan yang hampir terlupakan. Awalnya mau beli buku tamu biasa aja di toko buku tapi ternyata gak sengaja nemu vendor desain dan cetak buku tamu di instagram dan harganya terjangkau. Kami pesan di Macaloona (ig : @macaloona) dua buah buku tamu dengan desain dan warna mirip dengan undangan kami plus gambar sepasang pengantin. Dengan harga Rp120.000/buku kami dapat buku tamu yang kece untuk disimpan selamanyaaa (lebay).

This slideshow requires JavaScript.

 

Catering

Urusan catering kami ngikut rekomendasi Ibu di Subang yang dapet banyak info dari temen-temennya. Satu keuntungan lagi acara di Subang adalah harga paket catering disana lebih murah daripada Jakarta, menu lauk lengkap dan gubukan hanya seharga Rp45.000/porsi plus bonus sarapan saat akad nikah. Alhamdulillah porsi catering cukup sampai akhir acara, bahkan berlebih. Soal rasa, gue pernah test food satu kali dan rasanya oke oke aja. *gue gak terlalu paham rasa jadi selama bisa dimakan ya enak-enak aja haha* Sedangkan pas acara, gue dan Suami gak terlalu selera makan jadi cuma makan siomay-batagor doang, tapi dari beberapa testimoni tamu setelah acara sih katanya makanannya enak-enak. Alhamdulillah.

Vendor Catering : Ibu Ikah Sari Rasa, Subang (Ig : @ika_sarirasa)

Tips Menghitung Porsi Catering :

  • jumlah undangan dikali 2 : 500 undangan x 2 = 1000
  • estimasi tamu hadir : 80% x 1000 = 800 (persentase menyesuaikan, karena acara kami diluar kota maka estimasi kehadiran 80%)
  • proporsi prasmanan dan gubukan 60:40 (bisa 70:30 atau 80:20 juga, disesuaikan dengan acara siang atau malam dan kondisi tamu) : prasmanan 60% x 800 = 480 porsi
  • Gubukan 40% x 800 = 320 porsi x 4 gubukan (asumsi setiap tamu mengambil makanan dari 4 gubukan) = 1280 porsi
  • Jumlah porsi per gubukan = 1280 porsi : 6 gubukan (asumsi jumlah gubukan) = 215 porsi/gubukan

Rias, Busana, Dekorasi

Berhubung kami berdua gak stay di Subang dan sedikit banget informasi vendor pernikahan untuk daerah Subang di internet, jadi kami mengandalkan Ibu sebagai informan haha Ibu gue merekomendasikan vendor nikahan yang lagi naik daun di Subang, Kaynha Wedding.

Setelah kami kepo instagramnya dan coba dateng kesana untuk liat portfolionya, akhirnya kami memutuskan untuk pesan paket pernikahan Rias, Busana Pengantin dan Keluarga, Dekorasi, MC dan Acara, Foto dan Video juga Entertainment di Kaynha Wedding. Overall, kami puas banget sama Kaynha Wedding, kecuali sama rekanan vendor foto dan videonya hiks (kekeuh dibahas).

Kami minta dekorasi bernuansa peach, dan kebetulan mereka punya baju pengantin dengan warna senada. Gue suka banget sama model dan warna bajunya, it was complementing my skin tone very well. Riasan akad dan resepsinya juga berhasil bikin pangling dan dapet pujian dari temen-temen yang hadir (no cukur alis sist). Keseluruhan acara, kecuali akad nikah yang agak kecepetan dari jadwal, berjalan baik dan MC nya profesional banget dan gak garing. Band pengiringnya pun oke, suara penyanyinya bagus, dan kami dapet bonus band akustik lengkap padahal kami cuma bayar penyanyi dan organ aja. Makasih banyaak Kaynha Wedding dan team 😀

Vendor : Kaynha Wedding (Ig : @kaynhawedding01)
Music entertainment : Mystic Music (Ig : mystic_official01)

This slideshow requires JavaScript.

Alhamdulillah selesai juga segambreng review vendor pernikahan kami yang Alhamdulillah berjalan lancar. Makasih banyaak semua vendor yang terlibat dan semoga berkah usahanya 😀

Merencanakan pernikahan (apalagi dengan budget terbatas) emang banyak banget tantangannya. Menurut gue yang terpenting adalah komunikasi sama pasangan, obrolin setiap progress ataupun kendalanya dan libatkan pasangan setiap ambil keputusan *walaupun cewe mah suka maksa dan cowo mah iya-iya aja wkwk*. Kadang bride-to-be suka stress sendiri padahal pasangannya sebenernya antusias mau bantu. Intinya jangan ragu buat minta bantuan ke pasangan maupun orang-orang terdekat.

Last but not least, terimakasih buat Pak Suami yang udah kooperatif ikut terlibat ngurusin semuanya plus bersabar kena omel selama empat bulan persiapan nikahan haha Thank you for being the best groom (and husband) I could ever ask for :))

 

 

 

 

 

A New Chapter Has Begun… : Vendors (2)

Seragam Keluarga

Dalam sebuah acara pernikahan, gak cuma pengantin dan keluarga inti aja tapi keluarga besar juga punya peran besar jadi harus kece juga dong yaa. Berhubung acara resepsi kami bertema nasional, kami memutuskan untuk gak menggunakan kebaya sebagai seragam para tante, melainkan gamis. Pertimbangannya, gamis pasti lebih nyaman dan masih bisa dipakai ke acara lain dilain waktu.

Ada sedikit perbedaan antara keluarga besar gue dan suami. Keluarga besar gue sepakat kalo gue cukup beliin kainnya aja untuk dijahit masing-masing. Jadi model baju setiap orang beda-beda walaupun kainnya sama. Sedangkan para om sepakat untuk menyewa beskap masing-masing, biar meringankan kami katanya. Terharu :”” Kain untuk para tante terdiri dari dua warna, peach muda dan toska, dibeli di Toko Median, Pasar Baru, Bandung.

wp-1499834807534.jpg
Kain peach-toska untuk para tante. Ternyata beda model baju tiap orang malah jadi bagus kan..

Sedangkan untuk keluarga besar suami diputuskan untuk membeli gamis jadi di Thamrin City. Setelah muter-muter nyari gamis yang warnanya pas, ada pilihan ukuran dan sesuai budget dan itu susaaah banget, akhirnya ketemu juga gamis yang sesuai, warna peach-pink muda seharga Rp140.000/pcs.

wp-1499834803024.jpg
Seragam keluarga besar Suami. Kece yaa B-)

Foto Prewedding

Awalnya kami gak berencana untuk foto prewedding karena selain menghemat budget, kami gak fotogenik anaknyaa haha Rencananya mau pajang aja foto-foto lama karena kebetulan kami suka jalan-jalan bareng. Etapiii… setelah disortir kok rasanya koleksi foto kami gak layak tayang ya haha Kebetulan kami emang lebih sering jalan-jalan dan liburan outdoor, dan ntah kenapa tipe kulit muka gue cepet banget gosonggg, kalau ke mall pun cuma bisa sepulang kerja dimana udah lepek banget jadilah foto-foto kami penuh dengan muka kucel hiks

Setelah maju-mundur, H-1 bulan kami mantap buat foto prewedding, tapi di studio aja biar ga ribet dan harus murah! haha Setelah browsing sana-sini ketemulah satu vendor kece, studionya deket kosan, dan lagi promo hanya Rp750.000 saja untuk satu jam sesi foto. Alhamdulillah hasilnya memuaskan bangeeet…

Prewedding kami hampir tanpa persiapan. Baju yang digunakan pun satu stel baju lama yang warnanya senada, dan satu batik couple waktu lamaran. Untuk makeup nya lagi-lagi gue bergerilya di instagram dan berhasil menemukan MUA kece dengan harga terjangkau.

This slideshow requires JavaScript.

Vendor foto prewedding : Derzia Photolab Studio (ig : @derziaphotolab)

MUA : Mba Ines (ig : @beautybyines)

 

Foto dan Video Wedding

Overall dengan budget yang kami miliki, kami berdua cukup puas dengan vendor-vendor pilihan kami. Hampir gak ada kendala yang berarti, Alhamdulillah. Kecuali satu, vendor foto dan video wedding kami :”(

Jadi untuk vendor foto dan video, kami pilih sepaket dengan Rias, Busana, Dekor, dan Entertainment tanpa banyak pertimbangan, selain karena murah banget, awalnya kami gak terlalu concern dengan dokumentasi. Kami cuma lihat sekilas sample album dan beranggapan paling sama ajalah hasilnya. Tapi ternyata dipertengahan, gue tanya nama vendornya ke WO supaya bisa kepo instagramnya, dan hasilnyaaa… gue ga terlalu suka sama portfolionya, bagus, tapi ga sesuai sama ekspektasi dan selera kami.

Setelah kepo itu gue jadi kepikiran dan nyesel kenapa gak cari tahu di awal 😦 Gue coba hubungi pihak WO siapa tau masih bisa cancel untuk vendor fotonya, tapi ternyata udah dibayar lunas sama WO nya jadi gabisa lagi hiks Baru deh kebayang sedihnya acara nikahan yang kita siapin dengan maksimal tapi gak terdokumentasikan dengan baik.

Video Cinematic

Gue pun berusaha buat cari vendor foto lain, tapi ternyata vendor foto lain yang bagus emang jauh lebih mahal sedangkan vendor awal juga gak bisa cancel dan refund lagi. Sedih maksimaaal karena budget udah menipis…

Akhirnya setelah cerita ke calon Suami, kami sepakat untuk mengobati kekecewaan dengan tambah vendor lain untuk video cinematic. Kebetulan gue menemukan vendor asal Bandung yang gue suka video-videonya tapi harganya gak mahal. Untuk paket video cinematic yang kami pilih, harganya gak sampai tiga juta rupiah. Gapapa deh fotonya seadanya, setidaknya punya video yang bagus.

Alhamdulillah, ternyata keputusan kami tepat. Video cinematicnya bagus, sepadan lah sama budget yang dikeluarkan. Sedangkan foto dan video dari vendor awal beneran mengecewakan dan bahkan baru jadi 5 bulan kemudian. Bahkan sampe sekarang kami belum pilih foto yang akan diperbesar karena keburu bete huft *tepok jidat*

Vendor video cinematic : Quins Pictures, Bandung (ig : @quinspictures)

Cek videonya teaser nya disini.

This slideshow requires JavaScript.

A New Chapter Has Begun… : Vendors

Undangan

Setelah dapet gedung di tanggal yang diinginkan, next step yang kami lakuin adalah cari vendor undangan. Thanks to Google, gampang banget cari rekomendasi vendor undangan di Jakarta dan mayoritas merekomendasikan Pasar Tebet Barat lantai basement sebagai sarangnya vendor undangan berkualitas bagus dengan harga murah.

Pilih vendor undangan kudu hati-hati bangeet soalnya kalo sampe jadinya ga tepat waktu atau hasilnya ga memuaskan pasti stresss berat, makanya gue survey dulu review di Google dan sampe bikin list vendor mana aja yang memuaskan dan ga memuaskan biar ga salah pilih. Akhirnya pilihan kami jatuh kepada vendor Putra Karya yang banyak dapet review bagus di blog dan kebetulan juga vendor undangan yang banyak dipakai teman-teman kami.

Di kios Putra Karya banyak terdapat sample undangan dengan berbagai jenis dan harga. Kami pilih jenis single board dengan amplop dan deal dengan harga Rp5500/pc untuk 550 pcs sudah termasuk kartu ucapan terimakasih, kartu penukaran souvenir, plastik, dan label nama. Proses pengerjaan sekitar satu minggu untuk revisi desain dan satu bulan untuk proses cetak. Lebih lama dibanding waktu yang ditawarkan kios lain tapi jadi tepat waktu dan sepadan dengan hasilnya yang memuaskan bangeet.

Vendor : Putra Karya, Pasar Tebet Barat lantai basement.

Tips cari undangan di Pasar Tebet

  1. Survey di internet vendor mana aja yang reviewnya bagus dan jelek, saking banyaknya vendor di Pasar Tebet jadi jangan sampai salah pilih.
  2. Dateng lebih pagi sebelum rame biar puas lihat-lihat, karena kios-kiosnya kecil banget tapi calon pengantin yang dateng banyak.
  3. Keluarin kemampuan buat nego harga. Bandingkan harga dengan vendor lain atau dengan pengalaman teman kalian. Semakin banyak jumlah yang kalian pesan, harganya semakin murah.
  4. Perhitungkan dengan tepat jumlah undangan sejak awal, karena kalo ternyata jumlahnya kurang bakal mepet waktu dan mahal lagi biaya cetak tambahannya :” (tunjuk diri sendiri hiks)
indah ghaisandi3
Sneak peak desain undangan kami, peach, warna favorit gue :3

 

wp-1499828631825.jpg
Alhamdulillah undangan lancaaar sampai dibagikan

Souvenir

Selanjutnya adalah pemilihan souvenir. Karena budget yang kami alokasikan untuk souvenir hanya Rp5000/pc, opsi yang kami miliki pun gak banyak, antara lain lilin hias, dan tas blacu. Saking bingungnya urusan menentukan souvenir ini cukup lama tertunda, sampai kemudian kami menemukan salah satu vendor souvenir yang sebelumnya melebihi budget lagi diskon dan harganya paaas banget jadi sesuai budget kami. Alhamdulillah, rejeki anak soleh hihi Akhirnya souvenir pernikahan yang kami pilih adalah tanaman hias sukulen.

Vendor : Fuerte Garden, Lembang (Instagram : @fuertegarden)

Tips memilih sukulen sebagai souvenir :

  • Tanaman sukulen memang kecil, tapi penyimpanannya gak bisa ditumpuk sehingga menyita tempat dan perlu dikirim dengan kendaraan yang khusus karena jumlah souvenir kan pasti ratusan yaa. Perhitungkan budget pengiriman dan tempat penyimpanannya.
Souvenir
Souvenir pilihan kami 😀

Seragam Bridesmaids

Seragam bridesmaid itu opsional sih, lebih sekedar gemes-gemesan tapi juga semacam bentuk gratitude untuk sahabat-sahabat kesayangan kita.

Bridesmaid gue jumlahnya 10 orang, 5 temen SMA, 1 temen kuliah dan 4 temen kosan selama kerja. Untuk  temen kuliah dan kosan, gue memutuskan kebaya kutubaru warna peach dan bawahan kain lilit. Sedangkan untuk temen SMA, mereka udah kode ga mau kutubaru, jadilah gue milih two-toned blouse warna burgundy-pink dengan bawahan kain lilit juga.

Gue pilih beli baju dan kain jadi secara online via instagram untuk semuanya, selain supaya mereka ga perlu cari penjahit lagi, juga supaya gue ga ribet cari kain secara gue gapaham dunia perkainan.

 

image
Kutubaru peach dan kain lilit hitam

 

 

image
Burgundy-pink blouse dari @local.id dan kain lilit songket @chandani.id

 

Selain atasan dan kainnya, biar makin lucu gue juga sengaja custom tas serut blacu dan bikin bridesmaid cards. Gue pesan pouch blacu seharga RP10.000/pc dengan minimal order 20 pcs via instagram @packlicious. Demi menghemat budget, gue cetak sendiri kartu bridesmaid di percetakan seharga Rp20.000 saja untuk 16 pcs kartu, jauh lebih murah daripada pesan kartu di vendor. Desain tas blacu dan kartu nya gue bikin sendiri dengan comot sana-sini vector gratisan dari google dan di edit seadanya via paint (yap, gue segaptek itu :”) Walaupun sedanya tapi jadinya puasss banget ngasih ke sahabat-sahabat dengan effort sendiri 😀

 

Collage 2016-09-30 12_10_16
Desain pouch ala-ala

 

 

bersambung…